Tata krama Jerman: Menyapa hampir di semua situasi

Dear Sahabat,

Sebagai orang Indonesia, kita sering berasumsi bahwa orang kita adalah orang paling ramah sedunia. Kita mudah memberi senyum dan terbuka terhadap orang yang baru kita kenal. Namun bagaimana dengan tata krama sapa-menyapa atau mengucapkan salam?

Orang Jerman memang tidak gampang senyum seperti orang Indonesia pada umumnya. Mereka juga cendrung ‘tertutup’, tidak mudah menerima orang lain sebagai teman. Jika orang Indonesia menggunakan istilah ‘teman’ untuk setiap orang yang mereka kenal, orang Jerman hanya menganugrahkan jabatan ‘teman’ ini untuk orang-orang tertentu saja. Namun, soal tata krama sapa-menyapa, menurut saya mereka memiliki kebiasaan yang lebih baik.

Orang Indonesia tidak selalu mengucapkan “Assalamu’alaikum”, “Selamat pagi”, dll ketika bertemu kenalan di suatu tempat. Kadang kita cukup memberikan senyuman saja tanpa berkata apa-apa sebagai pengganti sapaan, dan hal ini dianggap lumrah. Bahkan ketika bertemu dengan orang yang kita hormati, kita kadang cukup menganggukkan kepala sebagai tanda hormat, tanpa mengucapkan salam!

Bagaimana dengan di Jerman?

  • Ketika baru pertama kali bertemu pada suatu hari. Misalnya jika kita ke kantor dan baru bertemu teman di hari itu, kita harus mengucapkan salam, tergantung jamnya, “Guten Morgen, Guten Tag, etc”.
  • Ketika kita akan pulang atau berpisah dengan kolega, mereka juga selalu mengucapkan salam perpisahan. Tidak cukup cuma bilang “Aku pulang dulu”, harus diakhiri dengan salam. Bahkan jika hari itu adalah hari Jumat, biasanya mereka akan mengucapkan “Have a nice weekend!” atau “Have a nice day!”.

Nah, contoh di atas masih normal yah. Di Indonesia juga lebih kurang sama walaupun tidak begitu formal. Berikut ini adalah contoh sapa-menyapa di Jerman yang tidak umum di lakukan di Indonesia.

  • Ketika kita belanja dan berurusan dengan kasir di sebuah toko, supermarket, dll, terdapat kebiasaan untuk terlebih dahulu saling menyapa dengan mengatakan “Hallo” atau “Guten Tag”. Tidak sopan jika kita tiba-tiba nyelonong saja meletakkan barang-barang kita di meja kasir. Begitupun setelah urusan kita selesai, jangan lupa mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan, seperti “Tschüss“. Nah, beda banget kan dengan kebiasaan kita di Indonesia? Kita hampir tidak pernah mengucapkan salam ke kasir, hanya bilang terima kasih saja setelah urusan kita sudah selesai.
  • Bukan cuma dengan kasir, kita juga harus mengucapkan salam awal dan akhir ketika berurusan dengan teller bank, dokter yang memeriksa kita, ketika kita mencari info ke pusat informasi, dll. Intinya hampir dengan semua orang yang berurusan dengan kita 🙂
  • Ketika kita datang ke sebuah klinik dokter. Ketika memasuki ruang tunggu dan sudah ada beberapa orang yang sudah duduk di sana, adalah sopan jika mengucapkan “Hallo” pada semua orang. Demikian juga ketika kita sudah selesai ditangani dokter dan kembali melewati ruang tunggu tersebut, disarankan untuk mengucapkan salam perpisahan. Sopan sekali bukan? Kalau di Indonesia, kita biasanya cuek saja tidak menyapa karena tidak saling mengenal.
  • Hal yang sama berlaku jika kita pergi ke kantor pemerintahan (mengurus ijin tinggal misalnya) dan di sana ada ruang tunggu. Disarankan untuk memberi salam ketika datang dan pergi kepada orang-orang yang sedang duduk.
  • Ketika memasuki sebuah lift dan ada beberapa orang yang ada di dalam, juga disarankan kita mengucapkan hallo, dan ketika akan keluar lift kita bilang “Tschüss“.
  • Di public transport, saya juga memperhatikan bahwa ketika ada orang yang baru duduk di depan kita, biasanya orang itu akan tersenyum kepada orang-orang yang terlebih dulu duduk. Bandingkan dengan situasi yang sama di angkot atau di kereta di Jakarta. Orang-orang jarang yang melihat wajah orang di sebelah kiri atau kanannya, langsung duduk tanpa permisi 😦

Pada bulan-bulan pertama saya di Jerman, mungkin orang-orang di sana menilai saya kurang sopan karena saya sering lupa mengucapkan salam perpisahan ketika berurusan dengan kasir. Setelah bilang terima kasih, saya langsung pergi dan merasa bersalah ketika mendengar ucapan perpisahan yang tidak sempat saya jawab.

Bagaimana? Anda mau terapkan kebiasaan sapa-menyapa ala Jerman di Indonesia? Mungkin akan sulit ya, karena kita akan dianggap aneh oleh orang Indonesia.

Setelah saya pikir lagi, tata krama sapa-menyapa ini lebih dekat ke aspek kesopanan dibanding ke aspek keramahan. Saya sering melihat bahwa ketika mereka saling menyapa, tidak selalu diiringi oleh senyum atau saling memandang. Apalagi jika menyapa orang-orang tidak dikenal di ruang tunggu. Biasanya orang hanya mengucapkan salam sambil lalu saja. Jadi yah, kebiasaan ini bisa dianggap sebagai norma kesopanan saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s