Mengapa Orang Indonesia ‘Benci’ Malaysia?

Dear Sahabat,

Saya biasanya tidak menulis hal yang bersifat opini, biasanya cuma cerita pengalaman-pengalaman saya dalam mengerjakan berbagai hal/kegiatan. Namun, setelah melihat reaksi netizen Indonesia terkait Sea Games 2017 di Malaysia, rasanya tidak sabar menuliskan pendapat saya tentang masalah ini. Mengapa orang Indonesia ‘benci’ Malaysia?

Benarkah ada ‘kebencian’?

Tentunya tidak semua orang Indonesia benci Malaysia. Belum ada survey atau penelitian juga terkait masalah ini. Namun, fenomena ‘kebencian’ terhadap Malaysia ini jelas terasa jika kita membaca komentar-komentar pedas di berbagai portal berita dan sosial media. Apa yang saya sampaikan pada tulisan ini adalah analisis saya berdasarkan pengamatan dan pengalaman hidup sejauh ini. Mohon maaf jika saudara-saudara saya sesama rakyat Indonesia tidak berkenan.

Sebelum kita bicara mengapa banyak orang Indonesia benci Malaysia, kita bahas dulu contoh-contoh kasus yang memperlihatkan bahwa kebencian itu ada.

  • Banyak orang Indonesia yang berpikir, tidak apa kalah dari Thailand atau Singapore, tapi jangan kalah dari Malaysia.

Contoh kasus: menurut sumber berita ini (Kompas 25 Agustus 2016), Evan Dimas menyatakan bahwa: “Saya rasa lawan Malaysia itu bukan hanya soal main bola, melainkan ini demi harga diri bangsa“.

Jadi? Bertanding melawan Thailand, Singapore dan lainnya bukan demi harga diri bangsa? Hehehe. Saya rasa Evan Dimas tidak sendiri, banyak orang Indonesia yang mungkin mempunyai perasaan seperti ini. Buat mereka tidak apa tidak mendapatkan medali emas, asalkan bisa mengalahkan Malaysia.

  • Jika ada atlit Indonesia yang bergabung dengan klub di Malaysia, maka mereka bisa dicap sebagai pengkhianat bangsa

Contoh kasus: Andik Vermansyah yang saat ini bekerja di sebuah klub sepakbola Malaysia diberitakan dicap sebagai pengkhianat oleh segolongan supporter Indonesia (sumber). Hal ini sungguh tidak logis, apakah setiap WNI yang bekerja di perusahaan asing adalah pengkhianat bangsa? Lain halnya jika Andik ganti kewarganegaraan lalu main jadi anggota Timnas Malaysia.

Dan masih banyak contoh lainnya.

Faktor-faktor yang memicu ‘kebencian’

Nah, sekarang saya ingin mencoba menganalisis faktor-faktor apa saja yang memicu kebencian ini?

  • Apakah karena kita serumpun (sama-sama Melayu) ?

Indonesia-Malaysia menggunakan bahasa yang mirip, sehingga mereka bisa berkomunikasi. Komunikasi yang positif (silaturahmi) maupun negatif (saling menghina dan mengolok). Coba bayangkan hubungan antara Indonesia-Thailand, tidak mungkin ada pertengkaran antara netizen Indonesia dan Thailand karena mereka hanya bisa berkomunikasi dengan bahasa tarzan ๐Ÿ˜€

Bahkan dengan Singapore, tujuan liburan favorit orang Jakarta. Apakah netizen Indonesia sering bertengkar dengan Singapore? Tidak. Orang Indonesia jarang yang bisa berbahasa Inggris dengan baik. Jangankan untuk bertengkar, untuk menyapa saja merasa sungkan.

Bagaimana dengan Brunei yang juga serumpun? Saya melihat fenomena yang berbeda di sini. Walaupun Brunei dan Indonesia juga sama-sama bisa berkomunikasi seperti halnya Indonesia dan Malaysia, saya tidak melihat orang Indonesia cukup “akrab” dengan orang Brunei. Lebih tepatnya merasa ‘asing’ dengan mereka. Tidak akrab dan juga tidak bertengkar.

Akhirnya saya menemukan counter example yang membuat alasan “serumpun” ini tidak bisa menjadi satu-satunya alasan munculnya ‘kebencian’. Namun paling tidak sepertinya faktor serumpun cukup menentukan. Serumpun berarti mempunyai banyak persamaan dan bisa berkomunikasi. Komunikasi yang gagal akan berujung pada pertengkaran dan kebencian.

  • Apakah karena Malaysia – Indonesia bertetangga langsung?

Kita tahu akur dengan tetangga bukan hal yang mudah. Ada banyak hal yang memicu pertengkaran, seperti rebutan lahan parkir, eh … salah ini mah kasus sama tetangga sebelah rumah ๐Ÿ˜€ Ok, contohnya masalah perbatasan.

Indonesia bertetangga langsung dengan Malaysia (laut dan darat), Singapura (laut), Papua Nugini dan Timor Leste (darat dan laut). Namun herannya, perasaan bermusuhan hanya ditujukan ke Malaysia. Bahkan kepada Timor Leste yang memerdekakan diri dari Indonesia, jarang orang Indonesia yang ‘peduli’, boro-boro untuk membenci? Jadi faktor tetangga bukan penentu juga.

Memang pernah ada kejadian perebutan Pulau Sipadan-Ligitan antara Indonesia dan Malaysia, yang dimenangkan oleh Malaysia melalui Mahkamah Internasional (sumber), namun bukankah seharusnya ini tidak melulu dijadikan alasan untuk membenci? Mengapa tidak salahkan pemerintah Indonesia saja yang kurang becus mengurus pulau-pulau terluar di Indonesia?

  • Apakah karena Malaysia lebih makmur dan lebih berprestasi?

Income percapita Malaysia hampir 3x lebih baik dari Indonesia (sumber). Artinya, orang Malaysia lebih sejahtera ekonominya.

Sebenarnya bukan saja di sisi ekonomi, dari segi kualitas pendidikan pun sekarang Malaysia lebih baik. Dari daftar universitas terbaik di Asia tahun 2017 menurut THE (Times Higher Education), Malaysia menempatkan universitas terbaiknya di urutan ke-59 sedangkan Indonesia hanya pada kelompok rangking 201-250. Masih panjang list yang bisa dibuat yang menunjukkan bahwa kita tertinggal dari Malaysia dalam banyak hal.

Hal ini sedikit banyak saya duga membuat sebagian orang Indonesia menjadi tidak senang.

  • Apakah karena masalah TKI?

Malaysia menjadi tujuan favorit TKIย  dibanding Singapura karena aspek budaya dan bahasa. Di satu sisi Malaysia sudah membantu masalah tenaga kerja di Indonesia, dimana seharusnya kita berterima kasih pada mereka. Namun, masalah-masalah yang terkait dengan TKI kadang membuat masyarakat Indonesia tidak adil dalam menilai situasi. Cendrung meletakkan semua kesalahan pada Malaysia, tanpa melihat akar masalahnya.

Lucunya hal yang sama tidak berlaku untuk Arab Saudi. Walaupun banyak masalah TKI di Arab Saudi (bahkan beberapa TKI di eksekusi mati di sana), saya tidak melihat orang Indonesia membenci Arab Saudi.

Bagaimana dengan Brunei? TKI kita juga ada di Brunei. Brunei lebih makmur dan satu ras dengan Indonesia pada umumnya, tapi Indonesia tidak benci.

  • Apakah karena Malaysia dianggap ‘mencuri’ budaya Indonesia?

Saya tidak ingin membahas panjang lebar tentang issue ini. Namun saya sepakat dengan sebuah artikel di Kaskus bahwa sebagai bangsa serumpun adalah wajar jika banyak kesamaan budaya. Apalagi banyak orang Malaysia yang merupakan keturunan Indonesia. Salah satu contohnya saja adalah Negeri Sembilan, yang merupakan keturunan Minangkabau. Saya menulis ulasan hubungan antara Minang dan Negeri Sembilan di sini.

Jika ada orang Indonesia yang menyatakan alasan ini sebagai pembenaran kebenciannya, orang tersebut mungkin kurang banyak membaca buku sejarah dan hal ini menunjukkan kurang luasnya wawasan dan ilmunya.

Ternyata tidak gampang mencari tahu dari mana datangnya benci ๐Ÿ˜€ Setelah bersusah payah mencari faktor penyebab, yang tidak satupun bisa menjadi faktor tunggal, akhirnya saya mencoba menyimpulkan. Mungkin sulit untuk mengakui hal ini, namun saya menduga faktor iri hati terhadap ‘saudara dekat’ lah kemungkinan terbesar penyebab utama kebencian ini. Seperti ada perasaan rendah diri (minder) kepada saudara sendiri jika mereka lebih sukses dari kita. Kalah makmur dari Singapore atau Arab Saudi bisa dicarikan alasannya bahwa kita beda ras dengan mereka. Kalah makmur dari Brunei tidak peduli karena tidak ‘kenal’ dan tidak bersaing dalam banyak hal. Namun, dengan Malaysia? Ibarat seorang kakak yang tidak senang atas kesuksesan adik kandungnya.

Kita semua tahu sifat iri hati dan dengki itu tidak baik dipelihara. Di samping dilarang oleh agama, sifat ini juga bisa memicu gangguan jiwa. Tidak percaya? Coba baca artikel yang berjudul “Iri, Bentuk Sakit Jiwa” ini.

Selain itu, memperlihatkan kedengkian di depan umum lewat komentar-komentar pedas di media sosial sungguh tidak bagus untuk citra diri masing-masing dan tentunya untuk citra negara kita, Indonesia. Mengumpat di media sosial, menghina orang lain atau negara lain dengan panggilan yang buruk, tidak bisa berargumen dengan logis, dll hanya akan membuat kita terlihat ‘bodoh’ atau ‘ndeso’ ๐Ÿ˜‰

Saya menulis opini semata-mata untuk membuka mata orang Indonesia yang “membenci” Malaysia. Jika Malaysia lebih baik dari kita saat ini, harusnya kita belajar dari cara mereka membangun negerinya. Mungkin pemerintahnya tidak lebih korup dari pemerintah kita? Mungkin mereka lebih bekerja keras? Mari instropeksi diri. Berhenti mencari kambing hitam atas kegagalan masing-masing.

Sekian uneg-uneg dari seorang warga negara Indonesia yang berharap suatu hari netizen Indonesia menjadi lebih dewasa dan disegani.

Salam.

Advertisements

25 thoughts on “Mengapa Orang Indonesia ‘Benci’ Malaysia?

  1. Ibrahim Muizzuddin

    Sebenarnya lebih tepat disebut sebagai rivalitas sih, soalnya wujud “permusuhan” ini hanya nampak di media sosial saja, setahu saya dalam realitas kehidupan sehari-hari hubungan antara masyarakat Indonesia dan Malaysia bisa dibilang akur-akur saja. Ditambah lagi memang orang Indonesia yang memang gampang terprovokasi.

    1. shizuka

      Terima kasih atas komentarnya, Pak Ibrahim.
      Setuju tentang rivalitas. Tapi rivalitas yang sehat adalah berlaku objektif dan sportif terhadap rekan/lawan tanding. Namun sayangnya, masih banyak yang diam-diam dengki dan mengekspresikan kebenciannya dengan cara yang tidak elegan (baca: membuat malu)

  2. Kamarul Zaman al Banjari

    Di Msia memang ramai sekali keturunan Indonesia. Mereka digolongkan dlm bangsa melayu bagi yg datang sebelum merdeka manakala bagi yg datang slps merdeka digolong dlm bangsa Indonesia. Suku paling ramai adalah Jawa diikuti Banjar. Bugis,.suku lain..mandailing, Rao, Kampar, Kerinci, Bawean, Aceh,

  3. Budak ganteng

    Itu just analisis kau sorang je? Sepihak kau sendiri, kau tak patut bercakap dgn analisis kau tu, nak I bagi alasan Indonesia benci Malayan?
    Kau juge cakap cume kerana sipadan & ligitan, kalau bangsa indonesia tak becus bukan berarti bangsa kau ambik sesuke hati, geser batas wilayah, curi ikan, curi kayu lalu kirim eropa, blg kat eropa kayu hasil negara sendiri?๐Ÿ˜ Selundupkan barang haram (drugs) berpuluh2 kg kat indonesia. Selundupkan wanita penjual diri, kat batam, medan, jakarta, bandung, surabaya & bali. Tak paham lagi ke? Dh tu kalau ade jerebu bangsa kau mesti protes, jelas warga kau yg ambik kayu secara illegal (illegal logging) sampai masa negara indonesia kene banjir tu pasal pebisnes and pencuri from malayan tu,
    Pulau indonesia kau ambik, lagu rasa sayange (khas maluku) kau ambik, hambalat nak kau rebut (tapi tak bejaye) tari tor-tor, tari pendet, tari reog, lepas tu lapor kat unesco tu buat ape? Bahkan kuliner cendol pun nak ambik juge๐Ÿ˜ itu still satu bangsa je, thailand, philifine pun kau nak ambik culture mereka.
    Di indonesia banyak warga kau sekolah, bekerja, kahwin dgn warga bangsa indonesia, tapi org indonesia tak nak cari pasal, ape lagi siksa2 tamu, mereka paham betul hargai bangsa lain tak macam malayan tu, di kawinin, gaji tak bayar, rampok, hukum gantung, organ tubuh ambik lalu jual, indonesia tak macam tu.
    Pasal bendera indonesia di balik tu ape? Iklan hina pekerja TKI tu ape?
    Ejek Indon tu ape? Kau fikir bangsa indonesia tu tak paham ke. Bangsa indonesia pun tak payah ejek malingsial, malayan (pembantu) tapi warga indonesia tak nak cari gaduh.
    Indonesia negara besar, negara kepulauan terbesat di dunia, alam, budaya indah di akui dunia. Jumlah penduduk ke 4 dunia, muslim terbanyak di dunia. Tak nak laa cari musuh dgn negara kau tu yg cume 30 juta penduduk je, tak nak cari gaduh, kalau tak de pekerja from bangsa lain seperti indonesia, tak de pendapatan negar kau tu, lagu indonesia banyak bangsa korang suke, but indonesia tak suke lagu malayan. Tenaga pengajar kat malayan tu rata2 from indonesia, banyak sangat, but tenaga pengajar malayan tak laku bagi indonesia. Bangsa indonesia bebas from penjajahan selama bepuluh2 tahun, merdeka from amerika, japanese, english dll, tak macam bangsa lain yg cume dapat belas kasihan & hadiah from english, like boneka english & amerika, so kau kene waspada dalam bagi komentar, lebih lagi pasal bangsa lain.

    1. shizuka

      Untuk Saudara Budak Ganteng,
      Ini blog saya, saya bebas menulis apa saja. Jika Anda tidak suka apa yang saya tulis, silakan berkomentar yang sopan.
      Satu hal lagi saya orang Indonesia, bukan Malaysia.

      1. Joe Alwi

        Salam Dari Malaysia
        Kupasan yang menarik daripada kaca mata saudara tentang hubungan Indonesia & Malaysia. Pada pandangan saya sebahagian besar berita negatif tentang hubungan dua negara ini banyak dijana oleh media dengan banyak tujuan seperti inginkan rating yang tinggi, mengalihkan sesuatu isu besar, sebab politik dan lain. Tidak dinafikan memang terdapat kes-kes terpencil seperti penderaan pembantu rumah misalnya namun saya percaya bukan semua majikan bersikap demikian dan yang bersalah wajar dihukum untuk membela mangsa.

    2. Sebhai

      “Pasal bendera indonesia di balik tu ape?”

      Kamu bilang negara Indonesia itu tidak pernah di balik bendera negara lain?

      “Tenaga pengajar kat malayan tu rata2 from indonesia,”

      Apa buktinya?
      Kebanyakan tenaga pengajar asal negara Malaysia sendiri.Kenapa indonesia mau hantar pengajar ke Malaysia?

      Wang tidak cukup?

      “but indonesia tak suke lagu malayan. ”

      Konklusi nya tak payah layan Siti Nurhaliza.

      “Bangsa indonesia pun tak payah ejek malingsial,”

      Dasar Indon cakap tak sama bikin.

      “so kau kene waspada dalam bagi komentar, lebih lagi pasal bangsa lain.”

      Maksudnya penulis artikel telah ketahui betapa tepatnya apa yang dituliskan.

    3. Sebhai

      “https://www.beritadaily.com/kl-games-sea-games-national-flag-indonesia-blundered-with-our-flag-in-2011-games/”

      Nah.Untuk intergriti kamu.

    4. ef fendi

      Pada budak ganteng aka bdak hemsem,Perbuatan atas diri masing2 bro,stiap negara yg ada diatas muka bumi ni akn lalui bnda yg sama,cuba kau tepuk sbelah tngan ada bnyi x,cuba kau tpuk 2blh tngan plak,sdiri pham la,fitrah manusia ada yg baik n jahat,tiada sbab itu kau mmutuskan silatulrahim sasama kita,dosa mumutuskan silatulrahim amat brat,snggup ka kita memukul nya,bkn alasan kita untuk mbenci org malaysia atau indonesia dsbab kan sgelintir org,1busuk bkn smua nya busuk,kisah indonesia dan malaysia sperti kisah 2org ank merebut harta pusaka bapak nya sdg kn 2 adk bradk ini thu dsbb kan harta blh mmecah blah ssama adk bradk,sdg kan harta tidak akn kekal slama lamanya,hntikn mmbenci kami org mlaysia kmi bkn siapa2 nnek moyang kami asal dri sna juga pulau jawa,1ari aku igin pijak tanah tmpt asal nenek moyang kami.

  4. Budak comel

    Bangsa kau bermula from indonesia, keturunan melayu sumatera, jadi kau punya nenek moyang from indonesia, tak reti kau hina indonesia

    1. shizuka

      Saudara Budak Comel aka Budak Ganteng,

      Siapa yang bilang orang Malaysia suka menghina Indonesia? Jangan suka men-generalisir. Memang ada orang Malaysia yang menghina Indonesia, dan tentu saja ada orang Indonesia yang menghina Malaysia. Tapi tidak benar membuat generalisasi.

      Anda adalah contoh orang Indonesia yang saya bicarakan di tulisan saya. Mengkambinghitamkan Malaysia atas semua hal buruk yang terjadi antara Indonesia-Malaysia.

    2. ef fendi

      Budak comel
      apa kbaikan org malaysia membenci indonesia dan apa kbaikan org indonesia mbenci org malaysia,klu aku membenci org indonesia sma sperti aku mbenci nenek moyang aku sdiri,alasan lbih kuat untk apa org islam mbenci ssama islam,xda sbab org malaysia mbenci indonesia.

  5. Anti rasis

    Lawan tanding kau kate?
    Bangang kau tu, bearti kau yg cari pasal. Kalau kau nak argumen mesti gune ig, supaya bisa argumen warga indonesia and malayan

    1. shizuka

      Halo Anti Rasis aka Budak Ganteng aka Budak Comel,

      Menulis komentarlah dengan sopan. Kalimat mana yang menurut Anda tidak tepat? Anda punya data lain? Jangan cuma pake asumsi Anda ya. Minimal tuliskan sumbernya (dari Wikipedia kah, sumber koran kah, dll).

      Mengapa saya harus berdebat dengan Anda di IG? Saya tidak mengundang Anda membaca blog saya, jadi jika Anda tidak berkenan, jangan dibaca.

  6. kalo pendapat gw pribadi sih kurang setuju dengan kesimpulan akhir penulis..
    Orang besar Bangsaku pernah berkata : “Kalo kita lapar itu biasa, Kalo kita malu itu biasa, tapi kalau kita malu gara-gara Malesia itu adalah sebuah penghinaan..”
    Perbuatan malesia (PM) yang menginjak-injak photo BK waktu itu bnr2 tidak bisa diterima akal sehat untuk (negara) beradab…
    bahkan ada komentar BK menyatakan : “apakah pernah dalam sejarah peradaban manusia seorang kepala negara menginjak-injak photo kepala negara lainnya?????”
    so….itu nancep banget dihati gw sebagai anak bangsa !!!

    1. shizuka

      Terima kasih komentarnya.

      Kenapa kita harus mendendam terkait kejadian masa lalu?
      Tidak semua orang Malaysia menghina Indonesia dan juga tidak semua orang Indonesia pernah menghina Indonesia.

      Damai itu indah.

    2. ef fendi

      Ini dinama kan kbencian turun menurun dan dosa trun menurun,jika btul ada org mlaysia mmijak mijak gmbr BK itu mslah dia jng krna kbodohan org itu kami yg slahkan,prkara lebih mulia dlm islam memaafkan org,(Orang besar Bangsaku pernah berkata : โ€œKalo kita lapar itu biasa, Kalo kita malu itu biasa, tapi kalau kita malu gara-gara Malesia itu adalah sebuah penghinaan..โ€) ini kata2 org politik,ada x alim ulamak brkata sperti ini,dan jika btol kjadian itu nyata skli bukti dan fakta,jika tiada bukti tkot jatuh fitnah.

  7. ef fendi

    Syabas admin ada kbaikan dlm tulisan blog ini,slalu benda baik yg kita buat mesti mendapat cacian dan makian,akhir zaman benda baik dihina benda jahat diikuti n dsanjungi.

    Ini permintaan dari sya blhkah kita bersahabat.

  8. Linggabuana

    Sebelumnya maaf kalau saya keluar topik. Bukan bermaksud tidak cinta negara, tapi sebagai orang Indonesia sendiri saya tidak setuju dengan pemikiran: orang Malaysia berasal dari Indonesia. Yap memang benar disana ada orang Jawa, Minangkabau, Bugis, dll., tapi bukan berarti orang-orang sana berasal dari sini. Semua orang-orang modern (pasca banjir Nuh) yang ada di dunia sekarang ini, berasal dari Afrika. Mau itu ras Melayu, ras Negrito, ataupun ras lainnya, untuk sampai ke kepulauan ini, harus melalui Semenanjung dulu. Mereka Ras Negrito seperti yang dinamakan Orang Asli di Malaysia dan orang-orang Indonesia Timur adalah pendatang pertama di wilayah ini sebelum kedatangan Ras Melayu.

  9. Linggabuana

    Saya setuju dengan “faktor iri hati”. Mereka yang seperti itu tidak bisa dianggap sebagai pembela atau pecinta negara, karena mereka suka begitu pula pada sesama orang Indonesia, itu kenyataannya. Yang namanya pendengki ya pendengki.

    Bohong lah dengan koar-koar mereka yang katanya cinta negara, bela negara, NKRI harga mati, bela martabat bangsa, bela harga diri bangsa, dll. Yang benar-benar cinta negara pasti akan melakukan apa yang mendatangkan kebaikan pada negara ini dan tidak banyak bicara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s