Perjuangan Melawan Kanker Payudara Dimulai

Dear Sahabat,

Keluarga kami mendapat cobaan berat pada pertengahan tahun ini. Adik kami pada bulan Mei 2015 didiagnosis menderita Kanker Payudara. Adik saya yang selanjutnya saya samarkan namanya menjadi Bunga, sudah berumur 32 tahun, sudah menikah dan memiliki satu orang anak berumur 5 tahun. Suatu hari di bulan Mei, Bunga mendeteksi bahwa ada cairan kuning keluar dari puting payudara kiri dan ia menjadi khawatir dan menceritakannya kepada kami. Kami segera mencari info di internet dan menemukan bahwa ini adalah salah satu ciri-ciri tumor atau kanker payudara. Kami semua menjadi shock dan sangat khawatir.

Bunga mengaku bahwa sebenarnya ia sudah lama mengetahui akan adanya benjolan di payudara kirinya, namun dia tidak berani untuk menceritakan dan memeriksakannya. Parahnya lagi sebenarnya ia sudah mengetahui benjolan ini 3 tahun yang lalu. Dia juga mengatakan bahwa anaknya dulu tidak suka menyusu di payudara kirinya. Sehingga ASI di kiri relatif tidak digunakan. Belakangan kami mengetahui hal ini juga merupakan ciri-ciri adanya tumor atau kanker.

Singkat cerita Bunga segera memeriksakan diri di Puskemas di kampung kami di Sumbar dan oleh dokter Puskesmas diberikan rujukan untuk ke RS di Bukittinggi. Bunga diberi rujukan ke dokter bedah di RS Stroke Nasional Bukittinggi. Namun berhubung saat itu dokternya tidak sedang di tempat, RS ini merujuk lagi ke RS Achmad Muchtar (RSAM) Bukittinggi. Di RSAM, awalnya ditangani dokter bedah umum, kemudian dirujuk lagi ke dokter bedah onkologi. Sebagai informasi, dokter bedah onkologi adalah dokter bedah dengan subspesialis tumor dan kanker. Di Sumatera Barat kabarnya cuma ada 3 orang dokter bedah onkologi, salah satunya dokter yang ada di Bukittinggi ini. Nama dokternya adalah Ismeldi Syarief. Dokter ini juga praktek di RS Yarsi Bukittinggi dan mempunyai klinik sendiri.

Dr Ismeldi meminta adik saya melakukan serangkaian pemeriksaan. Oleh karena menggunakan BPJS, maka dalam satu hari hanya boleh melakukan satu tes, sehingga prosesnya menjadi sangat lama. Pertama ada biopsi jarum (needle biopsi). Dari test ini bisa diprediksi ukuran tumor. Ternyata ada 2 benjolan, satu di payudara kiri dan satunya lagi di ketiak kiri. Yang dipayudara kiri ukurannya 6-an cm dan yang di ketiak 2 cm. Sementara masih diduga tumor jinak.

Selanjutnya dilakukan lagi USG payudara. Untuk USG ini jadwalnya tertentu. Pasien harus puasa sebelum di USG. Adik saya sempat lupa, sehingga terpaksa menunggu seminggu untuk dijadwalkan lagi USG. Hasil USG tidak menggembirakan. Tertulis bahwa diduga tumor ganas alias kanker 😦

Dokter menyarankan agar segera dilakukan operasi. Setelah mendaftar diketahui bahwa di RSAM, operasi baru bisa dilakukan setelah lebaran (Agustus 2015) karena antrian yang sangat panjang. Dokter mewanti-wanti bahwa Bunga harus dioperasi sesegera mungkin agar penyebaran kanker tersebut bisa dilokalisir. Jika tidak, bisa menyebar ke organ-organ lainnya.

Bunga syukurnya sudah menjadi peserta BPJS sejak 2014 sehingga segala biaya pemeriksaaan dan biaya lab tidak dikenakan biaya lagi (ditanggung BPJS). Jika dioperasi di RSAM akan full ditanggung oleh BPJS, tapi masalahnya tidak diketahui kapan tanggal operasinya. Jika ingin cepat dioperasi, harus ke RS Swasta. RS swasta yang disarankan dokter adalah RS Yarsi Bukittinggi karena beliau praktik juga di sana. Dokter menyarankan Bunga meminta surat rujukan dari Puskesmas Bunga untuk dirujuk ke RS Yarsi BKT. Setelah diurus, ternyata RS Yarsi menolak menerima, karena rujukan Puskesmas Bunga bukan ke RS tersebut. Jika memaksa, harus lewat jalur mandiri. Ribet ya? Apakah tidak ada pengecualian untuk kasus darurat? Pada titik ini kami masih galau apa yang harus dilakukan.

Semua yang saya ceritakan di atas adalah hasil laporan Bunga. Saya sendiri berdomisili di Jabodetabek. Saya tidak begitu puas dengan informasi yang saya terima dari Bunga dan ingin memastikan sakit yang diderita Bunga. Banyak pertanyaan dari saya yang tidak bisa dijawab Bunga dengan baik, seperti:

  • Kankernya sudah stadium berapa?
  • Jika dioperasi, apakah payudara akan diangkat?

Hal ini bisa dipahami karena lama konsultasi dengan dokter di RSAM hanya sebentar, buru-buru karena banyaknya pasien. Bunga bahkan mengaku belum siap jika payudarannya nanti diangkat. Dengan kondisi tersebut, saya dan keluarga yang ada di Jakarta memutuskan meminta Bunga ke Jakarta untuk mencari second opinion.

Sementara itu kabar duka ini menyebar di keluarga besar kami. Beberapa teman dan kerabat di Jakarta menyarankan agar Bunga mencoba terapi kanker menggunakan alat Dr. Warsito. Dari testimoni-testimoni tersebut, kami menyimpulkan bahwa usaha ini layak dicoba walau tentu saja biayanya harus mandiri tidak bisa menggunakan BPJS.

Pada pertengahan Juni 2015, Bunga berangkat ke Jakarta dengan dua tujuan, mencari second opinion ke RS di Jakarta dan mencoba pengobatan ala Dr. Warsito di Tangerang.

Di Jakarta, kami membawa Bunga ke Klinik Dr Warsito di Alam Sutera. Dari hasil scanning yang dilakukan di sana, konsultannya menilai bahwa kanker yang diderita Bunga sudah mencapai Stadium 3. Sangat mengejutkan 😦 Konsultan menyarankan segera dioperasi karena jika hanya terapi dengan alat mereka dikhawatirkan tidak cukup untuk menghadapi kanker tersebut. Bunga mendapatkan informasi yang cukup lengkap dan dia mulai bisa menerima bahwa operasi tidak bisa dihindarkan.

Selanjutnya saya membawa Bunga ke RS Hermina Jatinegara untuk konsul dengan dokter Onkologi dr. Budi Harapan. Berdasarkan pemeriksaan fisik yang dilakukan dokter, mempelajari hasil biopsi dan USG, dokter Budi menyimpulkan bahwa kanker sudah mencapai Stadium 3a. Lebih presisi dari perkiraan Konsultan Klinik Dr. Warsito. Dokter Budi memberikan pengertian kepada Bunga bahwa operasi pengangkatan payudara kiri adalah suatu keniscayaan. Bunga harus memilih diantara pilihan yang sulit. Alhamdulillah setelah Bunga mendengar penjelasan dari dua sumber ini, Bunga menjadi mantap untuk menjalani operasi pengangkatan payudara kiri.

Langkah selanjutnya adalah memilih di rumah sakit mana Bunga akan dioperasi. Setelah melalui pencarian informasi dan diskusi panjang, kami akhirnya memutuskan bahwa Bunga akan dioperasi di RS Ropanasuri Padang dengan dr. Daan Khambri. Tanggal 25 Juni 2015 tengah malam operasinya berlangsung dan merupakan hari yang penting bagi Bunga. Hari dimana ia harus merelakan payudara kirinya untuk menyambung hidup. Alhamdulillah operasi berjalan lancar. Bunga dirawat selama 3 hari di rumah sakit.

Masih panjang jalan yang harus Bunga tempuh. Dr Budi di RS Hermina Jatinegara menyatakan bahwa seandainya sel kankernya berhasil diangkat pada operasi, diperlukan waktu sekitar 5 tahun untuk terapi mematikan sisa-sisa sel kanker tersebut.

Demikian sahabat, semoga bermanfaat. Doakan agar adik kami tabah dan semangat menjalani takdirnya…

Advertisements

8 thoughts on “Perjuangan Melawan Kanker Payudara Dimulai

  1. putri

    bagaimana perkembangan terakhir?
    Saya ada tumor di payudara kanan & kiri, dan saya memilih self terapi. Saya lakukan sendiri di rumah.
    Yang harus terus diusahakan untuk tidak berpikir dan berperasaan negatif. Yg mungkin ga mudah ditangani sendiri jika ada emosi terpendam dan menjadi trauma…
    Semangat yah…kita sama2 berjuang… ^_^

  2. Pingback: Catatan Perjuangan Seorang Penderita Kanker Payudara – Cerita untuk Sahabat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s