Advertisements
RSS

Pengalaman Mengalami Pesawat “Delayed” dengan Sriwijaya Air

21 Feb

Dear Sahabat,

Beberapa hari ini sedang ramai orang membicarakan Lion Air yang mengalami kekacauan penerbangan selama 2-3 hari. Penanganan delay yang buruk membuat kasus ini menjadi topik nasional. Terkait hal tersebut, saya ingin membagi pengalaman adik dan ibu saya yang juga mengalami delay lebih dari 2 jam dalam penerbangan Solo-Jakarta dengan Sriwijaya Air sekitar 2 minggu yang lalu. Pengalaman ini untungnya bukan pengalaman yang terlalu buruk, karena pada akhirnya berakhir baik dimana Swijaya Air menanganinya sesuai peraturan. Mungkin itu sebabnya kejadian ini tidak sampai masuk berita di TV nasional 🙂

Hari itu 8 Februari 2015, ibu dan adik saya akan melakukan perjalanan dari Solo ke Jakarta dengan Sriwijaya Air dengan jam keberangkatan 11:00 dan rencana kedatangan di Jkt jam 12:05. Semuanya berjalan lancar pada awalnya, dimana penumpang naik pesawat pada waktunya. Pesawat sudah berjalan di run-way bersiap untuk mengudara. Namun ketika hampir take-off, tiba-tiba diumumkan bahwa penerbangan ditunda dan penumpang semuanya diminta kembali ke ruang tunggu. Didapatkan info bahwa diketahui ada kerusakan pada salah satu mesin. Kebayang dong perasaan para penumpang pada waktu itu. Di satu sisi bersyukur bahwa kerusakan diketahui sebelum take-off. Bayang-bayang kecelakaan AirAsia pada akhir Desember 2014 tentunya masih membayangi. Di sisi lain, ibu dan adik saya menjadi galau, bagaimana nasib perjalanan mereka selanjutnya. Jakarta tiba-tiba terasa sangat jauh *lebay mode on* 🙂

Dalam situasi menunggu tersebut, ada beberapa opsi yang muncul. Opsi pertama terus menunggu sampai pesawatnya selesai diperbaiki, tapi belum diketahui sampai berapa lama harus menunggu? Opsi kedua, kami memikirkan apakah mungkin minta refund. Bukan apa-apa, ibu saya was-was naik pesawat yang mesinnya tadi dikabarkan rusak. Bagaimana jika perbaikannya tidak sempurna? Ini seperti penerbangan bunuh diri rasanya. Opsi ketiga, anggap tiketnya hangus, adik dan ibu saya kemudian membeli tiket baru pada penerbangan selanjutnya. Masalahnya untuk opsi ketiga, kami rugi banyak. Sudahlah rugi 2 tiket Sriwijaya Air, harus membeli tiket baru dengan harga yang lebih mahal lagi. Opsi ketiga opsi paling menenangkan hati tapi paling rugi materi. Kami bahkan sampai terpikir, dari pada beli tiket yang mahalnya sampai 2 kai lipat harga tiket awal Sriwijaya Air, lebih baik adik dan ibu saya menunda berangkat besok pagi. Masalahnya, adik saya harus masuk kantor Senin paginya 😦

Sementara memikirkan berbagai opsi di atas, kami mencari tahu di internet terkait hak-hak penumpang jika terjadi delay. Saya meminta adik saya menanyakan apakah pihak Sriwijaya Air di Solo mau memberikan refund tiket atau memberikan kepastian tentang adanya pesawat pengganti.

Adik saya yang mendampingi ibunda untungnya cukup sigap. Setelah lebih dari dua jam menunggu dan mendapat kabar bahwa bahkan teknisi yang akan memperbaiki pesawat pun belum sampai di Solo, ia berusaha menuntut hak penumpang kepada staf Sriwijaya yang ada di sana bersama-sama dengan penumpang lainnya. Adik saya pergi dari ruang tunggu ke bagian sales counter yang ada di luar. Awalnya ia berencana untuk ikut minta refund seperti beberapa penumpang lainnya, kemudian uang refund dibelikan tiket penerbangan selanjutnya. Pihak Sriwijaya Air cukup kooperatif di sini, mereka mengabulkan permintaan refund dari para penumpang yang antri di depan adik saya.

Sementara adik saya mengantri untuk meminta refund, ada bapak-bapak yang memberi tahu adik saya bahwa sebaiknya jangan minta refund, tapi minta dicarikan penerbangan selanjutnya. Jika minta refund, setelah diberi uang refund maka hubungan penumpang dengan maskapai putus, penumpang selanjutnya harus berusaha sendiri mencari tiket ke Jakarta, tentu dengan harga baru sesuai harga tiket saat itu. Sedangkan jika kita minta diberi penerbangan pengganti, pihak maskapai lah yang memesankan tiket baru kita tanpa biaya tambahan. Kebetulan pada saat itu ada jadwal pesawat Garuda dari Solo ke Jakarta pada jam 14:00. Melihat bapak tersebut sudah berhasil mendapatkan tiket Garuda, adik saya pun berusaha keras untuk mendapatkan transfer ke pesawat Garuda “tanpa biaya tambahan”. Alhamdulillah, hal ini bisa dikabulkan juga oleh pihak Sriwijaya Air 🙂

Demikianlah, rencana awal berangkat jam 11:00 dengan Sriwijaya Air, berakhir indah dengan naik Garuda jam 14:00. Saya mengucapkan terima kasih kepada Sriwijaya Air yang sudah mematuhi peraturan keterlambatan pesawat dengan baik.

Berikut ini saya kutip, peraturan pemerintah terkait keterlambatan pesawat mulai 1 – 4 jam.

Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM. 49 Tahun 2012 (Pasal 34):

  1. Keterlambatan lebih dari 60 (enam puluh) menit sampai dengan 120 (seratus dua puluh) menit, badan usaha angkutan udara niaga berjadwal wajib memberikan minuman dan makanan ringan (snack box).
  2. Keterlambatan lebih dari 120 (seratus dua puluh) menit sampai dengan 180 (seratus delan puluh) menit, badan usaha angkutan udara niaga berjadwal wajib memberikan minuman, makanan ringan (snack box), makanan berat (heavy meal) dan memindahkan penumpang ke penerbangan berikutnya, atau ke badan usaha angkutan udara lainnya, apabila diminta penumpang
  3. Keterlambatan lebih dari 180 (seratus delapan puluh) menit sampai dengan 240 (dua ratus empat puluh) menit, badan usaha angkutan udara niaga berjadwal wajib memberikan minuman, makanan ringan (snack box), makanan berat (heavy meal) dan apabila penumpang tersebut tidak dapat dipindahkan ke penerbangan berikutnya atau ke badan usaha angkutan udara niaga lainnya, maka kepada penumpang tersebut wajib diberikan fasilitas akomodasi untuk dapat di angkut pada penerbangan hari berikutnya.

Peraturan lengkap bisa dibaca di sini. Di atur juga disana mengenai tata cara refund, dll.

Untungnya kejadian ini tidak terjadi di saat ibu saya melakukan perjalanan seorang diri. Beliau tidak akan mudah untuk hilir mudik mencari informasi atau mengurus penggantian tiket.

Situasi lainnya lagi yang menguntungkan kami adalah, ibu dan adik saya saat itu tidak mempunyai barang di bagasi. Kebetulan mereka hanya melakukan perjalanan singkat sehingga tidak perlu membawa banyak barang. Jika mereka mempunyai barang di bagasi, bisa dipastikan proses transfer pesawat ini tidak akan berjalan mudah. Mungkin saja prosesnya diawali dengan membatalkan tiket Sriwijaya, kemudian harus menunggu mendapatkan bagasi dulu, baru setelah itu pihak Sriwijaya mencarikan tiket baru. Lalu harus menunggu lagi memasukkan bagasi ke pesawat baru. Dengan kondisi tanpa barang di bagasi, adik dan ibu saya bisa segera pindah ke pesawat yang sedang dalam proses boarding 🙂

Kesimpulan:

  1. Setiap penumpang harus tahu peraturan terkait keterlambatan, dll
  2. Jangan biarkan orang tua melakukan perjalanan dengan pesawat seorang diri. Hal ini berlaku juga untuk anak-anak. Jangan ambil resiko membiarkan mereka naik pesawat tanpa ada pihak yang bisa mengatasi situasi yang tidak ideal
  3. Sriwijaya Air cukup baik dalam hal menangani delay
Advertisements
 
1 Comment

Posted by on February 21, 2015 in pelayanan umum

 

Tags: , ,

One response to “Pengalaman Mengalami Pesawat “Delayed” dengan Sriwijaya Air

  1. jtxmisc

    June 14, 2015 at 6:43 pm

    info yang sangat menarik, sepertinya harus dicoba 🙂 , Affleck

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: