Resiko Membeli Tanah Girik (Belum Bersertifikat) di “Kampung”

Dear Sahabat,

Saya ingin cerita pengalaman terkait transaksi pembelian tanah girik (tanah adat, belum bersertifikat) di sebuah “kampung” sekitar 10 tahun tang lalu. Sebagai pasangan muda yang masih “kurang wawasan”, kami dulu bertekad untuk tidak akan pernah berhutang kepada bank dalam pembelian apa pun, termasuk membeli rumah. Kami pun setelah menikah bukannya buru-buru mencicil rumah seperti orang-orang lainnya, namun malah hanya mengontrak rumah. Bukan karena kami tidak mempunyai uang untuk membayar DP rumah, namun kami punya tekad untuk membeli rumah secara cash. Walaupun ada keluarga yang menyarankan kami untuk mencicil rumah dengan KPR, kami mengabaikannya, karena terlalu khawatir jika sewaktu-waktu kami di-PHK, bagaimana melunasi hutang tersebut.

Pada suatu waktu ada tetangga yang menawarkan sebidang tanah di dekat rumah kontrakan kami. Harganya menurut kami “sangat murah” dimana kami bahkan bisa membelinya secara cash. Pasangan muda yang merasa dirinya “pintar” ini bahkan sama sekali tidak minta pendapat kepada kedua orang tuanya mengenai apakah lokasi rumah tersebut bagus atau tidak. Pasangan muda ini juga tidak bertanya kepada keluarganya mengenai ilmu membeli rumah. Mereka yakin bisa melakukannya sendiri 😉

Penjual tanah adalah tetangga kami yang sedang butuh dana untuk melaksanakan pesta pernikahan anaknya. Penjual yang merupakan orang asli di sana memang punya tanah yang luas. Tanah yang dijualnya tadinya adalah halaman samping rumahnya. Kondisi tanah yang kami beli adalah tanah kosong yang posisinya di dalam gang yang cukup dilalui oleh satu buah mobil. Jarak dari objek tanah yang kami beli ke mulut gang tidak sampai 50m dengan kondisi waktu itu masih jalan tanah. Secara hukum waktu itu jalan tanah itu belum resmi menjadi jalan umum, masih jadi “milik” sang penjual. Di seberang objek tanah yang akan dibeli sudah ada bangunan rumah tetangga lain tanpa teras/halaman yang berjarak 2.5m dari batas tanah. Sang penjual berjanji bahwa jalan tanah tersebut akan menjadi jalan umum dan menjamin bahwa lebar jalan di depan rumah saya akan dipertahankan. Pasangan yang lugu ini pun mempercayainya.

Pada transaksi ini, kami tahu ‘bersih’, tidak mengurusi tetek bengek prosedur jual beli. Dengan membayar X juta, sudah termasuk harga tanah dan biaya jual-beli. Sejujurnya ketika itu kami belum mengerti apa yang dimaksud dengan biaya jual beli. Kami juga tidak mengerti apa yang akan kami terima sebagai tanda bukti bahwa kami memang pemilik tanah tersebut. Apakah cukup dengan kwitansi pembayaran atau surat perjanjian saja. Bodoh sekali ya? Nekat adalah kata yang paling tepat!

Semua proses jual beli diurus oleh seorang tokoh masyarat (selanjutnya saya sebut TM). Kami tahu beres tanda tangan ini itu dan akhirnya mendapatkan surat yang bernama Akta Jual Beli (AJB) dan setumpuk dokumen yang menerangkan bahwa tanah itu adalah tanah girik, keterangan ahli waris, gambar ukur tanah, dll. Saya bahkan sempat berpikir bahwa yang saya butuhkan hanya AJB, sementara dokumen lain-lain itu sama sekali tidak penting (hal ini dikemudian hari saya ketahui salah, dokumen-dokumen selain AJB tersebut ternyata sangat penting untuk mengurus sertifikat).

Demikianlah, transaksi sudah terjadi dan saat itu kami begitu senang karena sudah berhasil memiliki tanah dengan harga murah secara tunai 😉 Kami pun kemudian secara pelan-pelan membangun rumah sederhana di atasnya. Masih tanpa meminjam ke bank. Setelah setahun berjalan, akhirnya proyek rumah kami selesai, dan kami pun akhirnya pindah dari rumah kontrakan ke rumah milik sendiri. Horeee …

Perlu saya tekankan bahwa sampai titik ini, kami bahkan belum kenal dengan istilah sertifikat tanah. Kami berasumsi bahwa AJB yang kami pegang adalah surat sakti yang akan mengamankan aset kami. Sejauh ini kosa kata baru kami adalah AJB dan GIRIK.

Sekarang mari kita bahas masalah yang kami hadapi setelah membeli tanah girik ini.

1. Tetangga “mengganggu” batas tanah

Beberapa waktu setelah akad jual beli dilakukan, si penjual dengan ‘ringan’ minta kami memberi sedikit tanah di bagian belakang untuk jalan setapak dari bagian belakang rumah mereka. Aneh bukan? Jika mereka memang butuh jalan di belakang, mengapa mereka jual semuanya? Sebagai pendatang di kampung tersebut, akhirnya kami setuju untuk memberi “sedikit” jalan. Alhasil kami terpaksa menggeser sedikit rencana bangunan kami. Tidak cukup hanya itu mereka juga meminta tanah di bagian di depan, dan ini kami tolak. Penolakan kami direspon kurang baik oleh sang penjual yang menganggap kami pelit.

Dari kejadian ini saya yang tadinya merasa nyaman tinggal di kampung tersebut, mulai menyadari bahwa kami adalah “pendatang” dan “pendatang” harus tahu diri dan mengalah kepada penduduk asli jika ingin hidup aman 😦 Seandainya kenyataan ini saya sadari dari awal saya tinggal di area itu sebagai pengontrak, tentunya saya tidak akan pernah membeli tanah di sana.

2. Penjual Ingkar Janji Terkait Lebar Jalan di Depan Rumah

Seperti sudah saya ceritakan di atas, tanah yang saya beli ada dalam gang yang lebarnya cukup untuk satu mobil masuk. Saat saya beli, gang tersebut masih berupa jalan tanah (saat ini oleh pemerintah sudah diberi paving block). Di depan tanah yang saya beli tadinya ada jalan selebar 2.5 meter yang dijanjikan penjual tetap akan dibiarkan seperti itu. Jalan tersebut memisahkan tanah saya dan rumah tetangga di seberang saya yang rumahnya tanpa teras dan halaman. Beberapa waktu setelah rumah saya selesai dibangun, si penjual yang lagi butuh uang menjual 0.5meter jalan di depan rumah tetangga tersebut untuk dijadikan teras si tetangga. Mau protes? Tidak bisa. Tidak ada perjanjian hitam di atas putih bahwa tanah jalan itu akan selamanya menjadi jalan. Alhasil, rumah tetangga itu pun menjorok ke depan jalan, agak merusak pemandangan dan tentu saja menyebabkan jalan mengecil di depan rumah saya. Ketika akhirnya saya punya mobil, jalan yang sempit di depan rumah ini cukup merepotkan ketika memasukan dan mengeluarkan mobil.

Cerita lain yang tidak kalah ‘hebat’ adalah si penjual pernah meminta kami untuk “membeli” sedikit jalan yang ada persis di depan rumah kami. Jika tidak dibeli maka mereka akan menjualnya kepada orang lain untuk dibuat sumur dan jemuran kain. Bayangkan, dia mengancam akan menutup jalan masuk ke rumah saya, padahal sudah bertahun-tahun tanah itu menjadi jalan umum. Ancaman ini kami abaikan karena tidak masuk akal. Mana mungkin ada orang yang mau beli tanah yang sudah jadi jalan umum. Alhamdulillah ancamannya tidak pernah terbukti sampai akhirnya kami memutuskan menjual rumah 🙂

Moral of the story: Jangan percaya janji manis secara lisan. Semua janji harus dituliskan hitam di atas putih!

3. Penduduk Asli Sering “Mengganggu” Proyek Pembangunan Rumah

Ketika kami membangun rumah, tetangga disekitar termasuk Pak TM sering “mengerjai” kami, misalnya:

  1. Tetangga seenaknya mengirimkan truk pasir dan meminta kami membayarnya, padahal kami tidak pernah memesannya
  2. Jika ada kiriman bahan bangunan dari toko material, mereka dengan ‘baik hati’ membantu mengangkutnya, namun kemudian akan meminta uang jasa.
  3. Mobil milik toko material dilarang masuk ke dalam gang dan dipaksa menurunkan bahan bangunan di luar gang. Akibatnya kami terpaksa harus membayar “orang kampung” untuk mengangkut batu kali/pasir/batu bata dll ke dalam area proyek
  4. Ketika masuk tahapan membuat dak rumah, Pak TM tanpa bertanya kepada kami memesankan “molen”, padahal kami sudah pesan sendiri. Akibatnya kami yang terpaksa batalin pesanan dan menggunakan “molen” Pak TM dengan tarif yang dia tentukan (tentunya lebih mahal).

Kami pernah “melawan”. Akibatnya? Tiba-tiba banyak bahan bangunan yang hilang 😦

4. Rumit dan Mahalnya Proses Membuat Sertifikat

Setelah merasakan banyak ketidaknyamanan di kampung tersebut terutama prihal aset tanah dan bangunan kami, berdasarkan saran-saran dari berbagai pihak, kami pun kemudian memutuskan perlu membuatkan sertifikat untuk tanah dan rumah kami. Tujuannya agar posisi kami menjadi lebih kuat di mata hukum.

Awalnya kami ingin meminta bantuan notaris (PPAT). Ada 2 notaris pernah kami datangi. Setelah kami menyerahkan dokumen-dokumen tanah yang kami punya, ternyata menurut notaris banyak tanda tangan yang bolong-bolong dan mereka meminta kami sendiri yang mengurus kelengkapan tanda tangan tersebut. Jika sudah lengkap, baru mereka bisa mulai bekerja mengurusnya ke BPN. Apa yang bisa saya simpulkan di sini? Pak TM yang mengurusi akad jual beli saya dulu tidak mengurus surat dengan benar. Bisa dikatakan bahwa AJB dll yang diserahkan kepada saya tidak sempurna. Ada pajak yang tidak disetorkan/dilaporkan dll.

Melihat kondisi tersebut dan menimbang bahwa kami tidak punya waktu untuk mengemis tanda tangan ke sana kemari dan juga karena kami tidak ingin berurusan dengan Pak TM, akhirnya kami memutuskan ke kantor kelurahan dan mencari oknum yang bisa membantu kami mengurus sertifikat. Oknum ini haruslah mempunyai posisi lebih tinggi dari si Pak TM yang sering menyulitkan hidup kami tersebut. Demikianlah kami membayar oknum kelurahan untuk mengurus sertifikat. DIbutuhkan waktu 2 tahun sampai akhirnya sertifikat tersebut berada di tangan kami. Biayanya? Hampir 10 juta.

Setelah memegang sertifikat, kami menjadi lebih merasa aman. Paling tidak dengan adanya SHM (Sertifikat Hak Milik), jika kami ingin menjual rumah tersebut, kami tidak perlu lagi berurusan dengan Pak TM dan pihak penjual tersebut.

Demikian pengalaman saya terkait pembelian tanah girik di sebuah “kampung”. Sungguh saya sangat tidak menyarankan teman-teman mengulang cerita yang sama. Kecuali Anda mempunyai keluarga polisi atau tentara, jangan coba-coba membeli tanah yang tidak bersertifikat di kampung dimana hukum formal tidak berlaku 🙂

Kesimpulan:

  • Jangan tergiur dengan harga tanah yang sangat murah namun belum bersertifikat
  • Jangan membeli tanah yang tidak terletak dipinggir jalan umum

Semoga bermanfaat.

Advertisements

50 thoughts on “Resiko Membeli Tanah Girik (Belum Bersertifikat) di “Kampung”

  1. Pingback: Pengalaman Mengurus Surat Pindah dari Tangsel ke Depok | Cerita untuk Sahabat

  2. informasi yang bagus sekali, saya sendiri sedang menjajaki proses pembelian tanah dan bangunan, dimana si penjual – setelah ybs menunjukkan ajbnya – pada bagian tanah yang dijual sama sekali tidak mencantumkan informasi penting seperti nomor sertifikat, luas, bahkan denah dari tanah yang dijual. menakutkan

  3. ijung

    Pengalaman hampir mirip saudara saya juga nih beli di Bogor..
    tapi dengan pengalaman tersebut jadi bahan koreksi diri, karena dulu belum paham.
    jadi alhamdulillah sekarang saya banyak belajar dari saudara.

    perlu pemahaman yang teliti sebelum membeli.. itu kuncinya.

    Saya melihat permasalahannya adalah di faktor lingkungan, yaitu :
    – Moral penduduk yang merasa kampungnya punya dia
    – Moral penjual tanah yang tidak bisa dipegang omongannya

    * Hidup diperkampungan memang harus banyak sosialisasi..
    – Jalan dikampung bisa ada.. karena penduduk yg mengeluarkan bersama sama dr tanahnya
    – Sempatkan Izin dgn tetangga dekat & izin gunakan akses jalan keluar masuk material
    – sudahkah diBerikan kesempatan penduduk setempat utk bantu kerja dibangunan anda

    * INTINYA TIDAK ADA MASALAH DGN SURAT AJB KAN ?
    – Ada kwalitas.. ada harga..
    – harga lebih murah ?? karena penjual tahu surat masih AJB..
    – AJB dikukuhkan ke sertifikat memang standar 10 – 15 juta…
    – AJB ke SHM standar proses 1,5 thn – 2 tahun
    – Jika sudah SHM pun.. saat anda balik nama akan dihitung biaya balik nama berikut pajak2..BPHTB nya..

    Ambil hikmah baiknya dari setiap kejadian..
    Untuk bahan pelajaran dikemudian hari..

    Karena tidak semua tanah atau rumah yg suratnya masih AJB akan bermasalah.
    Dan juga tidak semua tanah atau rumah yang suratnya sudah SHM itu tidak bermasalah.

    Perlu pengecekan.. baik AJB atau SHM :

    1. AKTA JUAL BELI
    – CEK LETTER C – KOHIR – BLOK ..DI KELURAHAN & KECAMATAN SETEMPAT

    2. SERTIFIKAT HAK MILIK
    – CEK FOTOCOPYNYA DI BPN SETEMPAT

    * INTINYA.. KEMBALI KE DIRI KITA MASING2.. SOSIALISASI BERTETANGGA..SANGAT PERLU.
    KARENA TETANGGA TERDEKATLAH YANG AKAN MEMBANTU KITA TERLEBIH DAHULU..

    INSYAALLAH.. BERMANFAAT

  4. mitha

    Wah sharingnya bermanfaat sekali, mau contoh langkah terakhirnya untuk saudara saya..

    Memang benar ya terkadang faktor lingkungan yang jadi permasalahan dalam proses semacam itu.

    Sharing juga, saudara saya belum lama membeli tanah yg masih girik,. Dengan mempertimbangkan sosialisasi bertetangga / membina hubungan baik dengan penduduk kampung, saudara saya itu menolak mengurus jual beli melalui notaris. Memang benar sih pemikiran beliau. Tapi ternyata, calon tetangga dekat juga tidak selamanya baik lho. Alih-alih ingin menolong ada seorang calon tetangga dekat (dekaat sekali bahkan) yang sepertinya ia juga memanfaatkan keadaan agar selamanya kita bergantung kepadanya. Dengan (mungkin) perasaan bahwa kampungnya adalah punya dia (engkong, babe dan sesepuhnya banyak disitu dan masih berelasi dengan si pemiilik tanah), dengan angkuh ia (juga) mengunderestimate-kan dan bahkan menolak pengurusan jual beli yg melibatkan pihak ketiga (notaris), lebih baik mengurus dengan bantuannya dijamin cepet dan gak ribet dan nantinya akan jadi tetangga baik. Ia sepertinya yg mempengaruhi pemikiran saudara saya.

    Dengan pertimbangan saudara saya itu, akhirnya keluarga pun menuruti demi terciptanya hubungan baik pertetanggaan. Namun, ternyata setelah AJB keluar, si tetangga sepertinya enggan memberikan surat yang lengkap kepada saudara saya. Surat keterangan kelurahan masih bolong2 (tidak ada keterangan persil/letak objek tanah- yg bikin seperti bukan dari kelurahan beneran), tidak ada riwayat girik, pajak gak divalidasi dsb.. gak puas rasanya. Kita coba komplain baik2 dengan menjelaskan yg seharusnya, tapi mereka malah lebih galak, menganggap ‘tetangga baru’ tidak percaya kepadanya, sok pintar, tidak tahu menahu pengurusan tanah di wilayah mereka, dan sebagainya. Dengan jaminan AJB yg sudah keluar akhirnya daripada ribut ya sudah kita terima dulu.

    Terkadang gitu ya, karena ketidaktahuan penjual ( karena seringnya girik itu dimiliki oleh orang2 tetua dulu yg tidak tahu bagaimana mencatatkan tanahnya), ia membiarkan tanahnya kejual asal laku, terserah orang urus suratnya bagaimana. Nah, celah itulah yang dimanfaatkan seseorang untuk mencari keuntungan duniawi semata. Semoga kita terhindar dari orang-orang yang berpikiran jahat seperti itu 🙂

  5. Siti Mulyani

    Yogya berhati nyaman itu bullshit,saya juga punya pengalaman yg nyaris sama ketika membangun rumah,tetangga sekitar suka memalak,memeras,mengancam, dan kasar.Bahan bangunan juga suka hilang,memaksa menjual material dg harga d kualitas yg tdk fair.Masalahnya adalah, kemiskinan materi dan mental,hanya sepertinya pakai bahasa Jawa sok halus,tp banyak yg hatinya jauh lebih kasar, tegaan,tdk bersahabat.

  6. adon

    Wah gan itu mah sdh banyak kejadian begitu,lebih parah lagi daerah gabus kabupaten tambun,ribet dng penduduk aslinya merka tdk senang kalo ada pendatang baru,banyak orang yg sdah punya rumah di sana/ perumahan2 di sana mereka jual lagi gan,rusuh,konyol2,sok blagu orang2 nya gan.klo tdk ada orang pendatang tdk bisa makan dia,ada orng pendatang j masih di parkiran,jadi calo,petantang petenteng di pasar,kali2 bang bro jadi presiden /mentri/derektur dll.
    Seandainya sj otomi daerah di negri ini merata,ogahhh banget gw mah merantau.
    Pesan dari gw lebih hati2 aja kita,dan minta perlindungan & keselamatan sm Allah yg Maha esa,amiiiin.

  7. Jiran

    Guwe malah lagi ngadepi masalah tanah dengan tetangga yang kebetulan anggota Polkis. Jalan umum yang melintas di depan rumah gw dan biasa gw pake buat akses keluar masuk mobil&motor sama dia diklaim sebagai milik pribadi dan bikin kanopi yang lumayan mengganggu pemandangan dan menjadikan akses keluar masuk mobil lebih sempit. Memang sih jalan itu satu-satunya akses ke rumah dia tapi bukan berarti milik pribadi dia. Anehnya sudah guwe tunjukan Sertifikat Hak Milik gw lengkap denahnya dan keterangan bahwa itu jalan umum (bukan jalan milik pribadi) eh malah tetangga gw itu jauh lebih galak dan kekeuh mengklaim jalan itu sebagai miliknya. Yang tertera di SHM adalah beberapa bidang tanah (termasuk tanah gw dan tanah si tetangga yg bersebelahan dg gw) dan di situ jelas-jelas tertulis batas tanah dia itu hanya satu kotak kecil tidak termasuk jalan. Yang bikin gw marah sekaligus merasa lucu dia ngomong galak gitu tapi tidak menunjukkan sertifikat hak milik atau AJB ataupun dokumen pertanahan lainnya yang menguatkan klaimnya. Intinya asal klaim gitu…..

    1. shizuka

      Hmm, anggota Polkis emang banyak yang sewenang-wenang ya. Di komplek saya ada polkis yang menggunakan setengah jalan komplek di depan rumahnya untuk parkir tetapnya. Jalan yang tadinya bisa 2 arah (2 mobil) hanya bisa dilalui satu mobil. Yang paling kasigan tetangga di seberang rumahnya, tidak pernah bisa parkir mobil sementara di depan rumahnya. Pernah suatu hari Pak Polkis sedang keluar sehingga jalan di depan rumahnya kosong 2 arah. Si tetangga berniat memarkir sebentar mobilnya di depan rumah karena nanti mau pergi lagi. Beberapa saat kemudian datang Pak Polkis. Dia bukannya mengalah parkir di tempat lain, malah tetap keukeuh parkir di depan rumahnya juga. Akibatnya jalan di depan rumah dia dan tetangganya itu tertutup 2 arah. Ketika warga complain gak bisa lewat, tentu saja yang diminta mengalah adalah tetangga di depan rumahnya secara Pak Polkis pantang ditegur. Oh ya si Pak Polkis ini punya 3 mobil, padahal slot garasinya cuma 1 😛

  8. bun fafa

    saya juga mo sharing…impian mempunyai rumah mewujudkannya penuh halangan dan rintangan.cari yg bener2 cocok dari segala segi dengan pertimbangan jarak,budget bla bla….setelah dapat yg sesuai ada saja halangan…
    Pernah kami bertransaksi sudah DP 16persen dari harga jual..setelah mo pelunasan si penjual tidak bersedia diajak kenotaris.tanpa si pembeli adalah saya mo membayar pelunasan terlebih dahulu, karena saya dan suami tidak mo ambil resiko lebih besar lagi , takut surat2 nya bermasalah ataupun penjual tidak mo menanggung pph nya.maka kami mundur . dan kami berharap dapat dikembalikan DP kami. Penjual waktu itu sudah bersedia akan mengembalikan..Dengan dana yang ada untuk cari rumah lagi agak sulit, sehingga kami menagih max kami kasih waktu hampir sebulan untuk mengembalikan DP kami ,krn kami pikir karena ntah kapan dikembalikan maka saya dan suami memutuskan ingin mengikuti aturan main mereka untuk melunasi terlebih dahulu baru ke notaris.ternyata kami disuruh sabar lagi karena pennjual sudah memasarkan lagi rumah tersebut dengan harga yg tentu lebih besar nilainya. dan saya hanya bisa menunggu dan sabar…
    buat yang sedang cari rumah yg pembayaran cash.lebih baik di matangkan dari awal, baik harga, pajak sapa yg membayar..dan sistem pembayarannya seperti apa
    terimakasih semoga bermanfaat

  9. subhan

    makasih atas infonya…
    saya juga ingin bercerita sedikit, mertua saya ingin jual tanah berupa sebidang tanah dan persawahan dengan luas 1000 m2, pegangan hanya AJB saja, masalah nya bagian muka tanah ada yg ngaku2, sampai hampir separuh atau 500m2 dari luas tanah tsb, dan diapun telah memiliki sertifikat. gak ngerti bagaimana dia bisa membuat sertifikat tsb… dan harus bagaimana penyelesaiannya, kalau ada yg bsa kasih masukan silahkan… terima kasih

  10. Pandi

    Ceritanya persis seperti apa yg saya alami.. pasangan muda polos dengan nekatnya beli tanah girik/masih tanah waris nama engkong nya yg udah almarhum… cuma situ lebih mujur dari saya yg berhasil punya SHM.. Alhamdulillaah masih ada yg menolong saya mau mbayarin rumah saya.. dan dia yg ngurus surat2 nya… klo di ceritain perjalananya sangat panjang kali lebar bgt.. sampe nyesek.. namanya tanah girik seluruh anggota keluarga serta saudara2nya merasa berhak.. pernah suatu saat saudaranya mengancam.. saya mau gak di kasih jalan dan jalanya mau di tutup mau dibangun.. trus saya gak mau kalah ok silah kan.. kalau sampai jalan ditutup seluruh tanah ini akan saya jual ka mafia…(saya sebut nama mafianya.. dan memang orang itu terkenal mafia tanah dan kebetulan saya kenal dia.. dia jg seorang lurah) beruntung waktu itu surat girik nya saya yang pegang.. saya akan lebih untung.. dan seluruh keluargamu dan saudara2mu akan angkat kaki dari sini begitu saya bilang waktu itu… (tanah dan rumah yg saya beli 60meter dan digirik ada sekitar 5000meter lebih.. yg dihuni seluruh komplek keluarga dan saudara2nya) singkat cerita mereka bingung serta was2 kenapa giriknya dikasih sama saya..(untung ketemu orang kampung yg bodoh pula😆) akhirnya salah satu saudaranya meminta tetangga sebelah saya untuk membeli rumah saya dan tetangga saya jg ter tarik utk di jadikan kontrakan.. dan saudara yg satu nya memelas sama saya dan bilang.. mas… andai kata ada yg membeli rumah mas.. mas mau gak.. lg pula mas klo mau bikin surat nya mas mesti minta randatangan seluruh saudara2 saya.. karena ini tanah msh nama alm engkong.. (bayangkan tanah ini sudah jatuh ditangan cucu2 nya berapa orang yg mesti tanda tangan dan mereka gak mungkin tanda tangan cuma2) saya bilang oke.. asal sesuai yg sudah saya keluarkan… eeh sorenya tetangga yg mau beli tanah dateng langsung mau bayar… begitu dibayar dia minta girik yg saya bawa dan bilang.. udah surat2nya biar saya yg urus dan mas saya kasih waktu 3hari untuk pindah.. ok 2hr saya langsung pindah utk sementara pindah di kontrakan.. dan saya pamitan sama orang2 tetanga2 saya yg ngontrak di situ.. mereka terharu sama perjuangan saya dan istri saya… dan mereka bilang.. mas.. seribu satu orang kayak mas.. biasanya kasus seperti ini duit ilang mas.. dijual ke orang lain ya sudah ilang.. trus saya bilang.. paak kalau duit saya gak balik.. tanah ini akan saya jual kemafia sekalian impas… orang surat giriknya saya bawa.. termasuk situ (yg ngontrak disitu) angkat kaki dr sini… ooo begitu toh ceritanya..

  11. tito

    heran, masih ada aja ya orang2 berwatak jahat kaya gitu. padahal menurut agama ( khususnya islam ) sangat fatal kalau bermain – main dengan tanah. menggeser 1 cm patok batas tanah aja bumi bisa gak menerima kalau sampai dia meninggal nanti.

  12. ayu

    Nice share,
    Saya jg alami hal yg sama saat ini dan ga tau harus ngadu kmn krn beberapa pihak yang mau bantu urus surat-surat tp sepertinya tdk jujur.
    Puyeng..

  13. Angeline

    Thx infonya. Keluarga saya juga mengalami hal yang mirip dengan cerita suami istri itu cuma bedanya kami penghuni yang sudah lama di daerah yang sekarang sudah menjadi kabupaten ini harus menghadapi tetangga yang tidak toleran. Begini ceritanya, awalnya papa saya membeli tanah dari suami kakaknya atau om saya yang punya tanah seluas 105 m×15 m yang sudah bersertifikat. Waktu itu om sudah bangun rumah yang atapnya jerami dengan lebarnya 6,8 m. Berarti sisa lebarnya 8,2 m(7,7 m+parit 50 cm)dijual ke papaku. Kemudian om saya rekonstruksi rumahnya dengan bertopang sebelah tembok rumah kami. Karena asumsi hubungan keluarga, pembelian waktu itu hanya pakai kwitansi dan belum diurus pemisahan sertifikatnya. Lalu papaku membangun rumah di atas tanah yang dibelinya dan arsitek pembangun itu juga masih ada hubungan keluarga dengan kami yaitu saudara sepupu papa. Dulu orang sering berasumsi hubungan saudara makanya gak dianggap perlu punya sertifikat tanah sendiri. Tapi ketika om saya punya banyak utang pada orang akhirnya dia menjual rumah dan tanahnya ke orang lain katakanlah si A. Ketika itu baru dibuat Akta Jual Beli cuma masih belum juga diurus sertifikatnya. Karena ada isu yang terdengar oleh si A bahwa rumah yg dibelinya itu dulu ada yg mati gantung diri, dia menjualnya ke seorang wanita, sebut si B. Beberapa tahun kemudian adik saya menikah dan punya anak. Tapi setelah itu keduanya pergi merantau ke luar kota malahan waktu itu saya yang merantau di luar kota pulang ke kampung halaman. Karena harus menemani mama yang mengasuh ponakan, saya gak ke Jakarta lagi. Di rumahku hanya mama ,saya dan ponakan yang masih bayi. Kini ponakan saya 3 tahun dan bandelnya minta ampun apalagi kalau pas buka pintu rumah seringkali ponakan saya mendadak lari ke jalanan yg mana di depan rumah saya jalan utama banyak kendaraan yang melaju kencang. Sebab ini kami mau membuat pagar di halaman depan yang lumayan lebar dan dalam. Yang mengerjakan pagar juga saudara yang dulunya membangun rumah kami dan 3 orang tukangnya.Tapi ketika dibikin fondasi saja, tetangga sebelah saya si B keberatan dan paksa kami sisakan 50 cm tanah buat dia artinya tembok pagar kami gak boleh mengapit dekat tembok rumah si B. Dia mengancam kalau bikin lagi dia akan menyiram air panas ke badan tukang-tukang bangunan itu. Saudara sepupu papa pun gak berpihak ke sanak saudaranya padahal dia arsitek yang bangun rumah ini, dia pun tak bisa menjelaskan kondisinya. Si B ini ketika dia beli rumah dan menjadi tetangga sebelah kami, dia pura-pura baik dan sopan. Perangai asli si B ketahuan sewaktu dia rekonstruksi bangunannya. Si B wanita yg pelit dan serba perhitungan, dengki, egois, jahil, mau menang sendiri, pokoknya jahat sekali terbukti dia hanya menginginkan rumahnya dibangun dengan rapi tapi sering merusak punya orang lain apalagi tetangga yang pas di sebelahnya. Dia merusak atap seng dan plafon rumahku sampai bocor terlebih kalau hujan deras harus susun ember dan kain lap yang banyak takut netes air hujannya sampai kayu dan papannya jadi lapuk. Dia juga sering suruh orang manjat atap rumah kami hanya untuk kepentingannya. Dia tahu orang baru saja memperbaiki atap baru dia melubangi temboknya dan menjulurkan selang pembuangan air 2 buah AC ke atas atap rumahku dan tiap hari buang sampah ke depan halaman rumah saya yang mana tempat dia buang sampahnya itulah si B tetangga jahat minta tanah 50 cm dari kami. Janji pak RT mau bantu dampingi saya ke Lurah untuk minta tanah ini diukur ulang, tapi pak RT sepertinya enggan terus bilang pak Lurah rapat ke luar kota sampai saat ini pun gak ada kabarnya, apa karena dia malas urusan dengan si B atau ada apa ya antara pak RT dan si B. Si B wanita yang cerai dengan suaminya dan punya banyak selingkuhan selain pria simpanan yang tinggal bersamanya. Si B selalu mengandalkan seorang pria selingkuhannya yang juga tokoh masyarakat sebutlah SI yang bisa membantu si B menyogok orang untuk berpihak kepadanya. Saya dengar dari orang kalau si B juga memiliki gangguan kejiwaan, stress dan tidak toleran terutama dengan tetangga sebelahnya karena dulu si B kontrak rumah ke mana pun berantam sama pemilik rumah dan tetangga. Si B bersikeras untuk merebut sisa tanah 50 cm itu padahal waktu si B beli dia “deal” kalau ukuran lebar tanahnya 6,8 m, punya kami 8,2 m(rumah 7,7 m, sisanya parit atau selokan air 50 cm). Sedangkan sekarang si B curang, dia menyogok notaris dan pegawai kelurahan untuk mengusahakan 50 cm itu ditambahkan ke sertifikatnya. Jadi sekarang mau tak mau saya harus mengurus sertifikat ke kelurahan atau kecamatan sampai selesai tuntas masalah pagar dan tanah ini baik melalui notaris ataupun saya sendiri kalau tidak pembuatan pagar jadi tertunda. Saya minta arahan dari professionalia dan pembaca. Terima kasih.

  14. Lia Khayati

    Untuk pembeli tanah yg letaknya terkurung, ada peraturan yg jelas mengatur tentang itu. Kalau tidak salah hak Servituut.
    Hak untuk mendapatkan akses menuju tanah miliknya.

  15. tika pertiwi

    Persis yg sperti aq alami skarang….2thun yg lalu, ktika msih lugu….smpai skrg blum ada kjelasan surat2….hikssss….

  16. Amirullah

    Apa yng kita tuai, adalah hasil yng kita tanam,…..
    Sy sdah mmbeli tanah adat (girik) di 5 tempat yng berbeda, bahkan di kampung yng terkenal rawan di daerah Bekasi…
    Semua aparat dari kecamatan, kel/desa, RW RT, bahkan tetangga… semua kooperatif dan penuh gotong royong…
    Bahkan sy dicalonkan untuk mnjadi tokoh masyarakat (RW).. di kmpung tersebut…
    Tidak semua yng anda utarakan benar… semua tergantung kita yng hidup ditengah masyarakat.. Saya Pendatang, dari Aceh…… tapi sy diterima baik dan dihormati di 5 tempat tanah saya tersebut…
    Walopun tanah sy kecil tidak sampai 150 m2, tapi cukup dijaga baik oleh pnduduk setempat..
    Trims..

    1. shizuka

      Waw selamat ya Pak Amirullah atas pengalaman baik Anda. Saya hanya menceritakan pengalaman saya yang ternyata berbeda dengan Anda. Saya heran bagaimana bisa Anda menyatakan bahwa tidak semua yang saya utarakan benar sedangkan ini adalah cerita hidup saya, bukan Anda. Dari pada Anda mempertanyakan pengalaman hidup orang, sebaiknya Anda memberi tips bagaimana agar bisa menjadi seperti Anda.

  17. noviana

    Infonya menarik skali dimn kami jg berencana ingin membeli tanah yg blm bersertifikat namun status ny msh girik krn tanah itu,masih milik nenek dari suami….tp yg mnjual nya sodara dr mertua,adik mertua,tp sy bersikeras agar c nnek di kasih tau dlu sblm transaksi,wlupn c nnk udh tua kami tdk smpai hati membohonginya,krn almarhum kakek meninggalkn bnyk tanah tp tnp spengetahuan c nnk tanah itu sdikit demi sdikit di jual sm ank2 nya

  18. adi

    ceritanya sangat menarik pak. sampai saya bisa merasakan apa yang admin ceritakan, cuman kok isi sama judul beda ya pak. heheh

  19. Ali

    Nice sharing and thanks for your story, semoga TM (tukang malak) di berikan Hidayat dan diampuni kesalahannya. Dilapangkan kuburnya bila Sdh Mari.

    1. shizuka

      You are welcome, Pak Ali.
      Haha iya, saya sedang sudah tidak berurusan lagi dengan beliau. Tanah dan rumah tersebut sudah saya jual 😉

  20. nida marliana

    Memang knp kita harus punya saudara tentara atau polisi?
    Jd klu ada keluarga polisi lebih aman begitu jika membeli tanah girik adat

  21. Bagus

    Thanks infonya pak….
    Saat ini sya sdg process transaksi pembelian sebidang tanah girik, tapi sblm bayar dp dan pelunasan sya minta orang notaris dan bpn untuk ukur dan pembuatan AJB
    ..bilamana aman baru saya lanjutkan proces jual beli tsb..
    Adalah benar…jgn sekali kali membeli tanah yg belum jelas batas2 untuk jalan …
    Dan jgn mudah tergiur harga miring…
    Selidiki sedetails mungkin riwayat status tanah..

  22. I see you don’t monetize your page, don’t waste your traffic, you can earn extra cash every month
    because you’ve got hi quality content. If you want to know
    how to make extra money, search for: best adsense
    alternative Dracko’s tricks

    1. shizuka

      Halo Pak Rio. Semangat ya Pak, semoga bisa menghadapi tetangganya. Di kasus saya, salah satu tetangga yang menguji kesabaran adalah juga sang penjual tanahnya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s