Advertisements
RSS

Suka Duka Tinggal di Apartemen Mares II Depok

29 Apr

Dear Sahabat,

Kali ini saya ingin cerita tentang suka duka tinggal di Apartemen Margonda Residence (Mares) II Depok. Cerita ini terkait pengalaman saya tinggal di sana selama 1.5 tahun. Pengalaman di apartemen lain mungkin berbeda. OK, kita bicarakan dulu berita baiknya …

1. Lokasi Strategis

Ini tentunya alasan utama orang-orang tinggal di apartemen dibanding tinggal di kost-kostan biasa atau menyewa rumah tapak. Apartemen Mares II terletak di lokasi strategis, dekat dengan kampus, stasiun kereta, rumah sakit, mall, dll.

2. Area Parkir yang Memadai

Apartemen Mares punya lahan parkir yang cukup luas untuk penghuninya. Khusus untuk kawasan Margonda Depok, sulit sekali mencari rumah kontrakan yang mempunyai carport dan akses jalan yang nyaman. Gang-gang di sekitar Margonda sangat sempit, cuma nyaman untuk dilalui satu mobil.

3. Dikelilingi Pusat Kuliner (plus jasa delivery)

Anda tidak akan kelaparan jika tinggal di Mares. Di sekitarnya berjejer restoran favorit. Pizza Hut Delivery, Pecel Lela, Mang Kabayan, termasuk yang tidak bermerk seperti abang siomay, nasi goreng, bakpao dll. Anda bisa memesannya dalam perjalanan pulang ke apartemen atau tinggal telpon dari kamar Anda 🙂

4. Ada Minimarket dan Layanan Laundry di Lantai Dasar 

Jika butuh sesuatu seperti air mineral galon, Indomie, dll, Anda tinggal keluar kamar kemudian turun lewat lift dan Anda pun bisa berbelanja 🙂 Demikian juga ingin mencuci baju, tinggal antar ke tempat laundry yang ada di lantai dasar. Mau antar jemput laundry sampai ke pintu kamar Anda, juga bisa.

5. Ada Kolam Renang yang Besar dan Cantik

Menurut saya kolam renang Mares II lebih bagus dibanding kolam renang yang dimiliki Hotel Santika Depok. Besar dan cantik 🙂 Sayang ketika tinggal di sana saya jarang berenang. Selain kolam renang sebenarnya ada lagi fasilitas olahraga yang lain, namun karena saya tidak pernah menggunakan, jadi tidak bisa cerita.

6. View yang Bagus (tergantung posisi unit)

Saya lebih suka tinggal di unit yang relatif tinggi dengan alasan akan mendapatkan view yang menawan. Inilah kelebihan tinggal di apartemen, Anda bisa memantau lalu lintas dengan cakupan yang luas. Yang paling fenomenal adalah, Anda bisa menikmati pesta kembang api tahun baru dari jendela kamar Anda. Saya 2 kali mengalaminya, Tahun Baru 2013 dan 2014. Orang lain yang membakar petasan, kami yang menikmati pemandangannya dari ketinggian. Sangat indah 🙂

— Nah, itu kira-kira itu benefit yang akan Anda dapatkan jika tinggal di apartemen… Bagaimana dengan masalah yang dihadapi selama di Mares II?

1.Sinyal Handphone Lemah

Ini masalah nomor satu yang sangat mengganggu. Silakan biasakan diri Anda dengan koneksi telepon yang sering putus atau berisik karena sinyal yang kita terima kurang bagus. Mungkin karena berada di ketinggian, sementara tower operator mengarah ke konsumen yang ada di permukaan bumi (?)

2. Lift Sering Rusak

Yup, dalam satu minggu adaaa saja kasus lift rusak. Saya tinggal di Blok H yang diapit oleh Blok HH dan J. Antara Blok H dan HH tidak ada pembatas (nyambung) sehingga dapat dipandang sebagai satu tower. Blok H dan Blok J terpisah, dihubungkan oleh tangga darurat. Pada masa awal saya tinggal di Mares hanya ada 1 lift yang dioperasikan di HH dan 1 lift di H. Lift di Blok H/HH sering rusak. Kedua lift ini rusaknya gantian kayak sudah janjian. Saya tidak begitu tahu apakah lift di Blok J sering rusak juga. Kalau lift di H rusak, maka penghuninya pindah ke lift di HH. Demikian sebaliknya. Pernah beberapa kali kedua lift rusak, kami akhirnya harus naik ke atas melalui lift Blok J, kemudian menuju unit kami lewat tangga darurat yang menghubungkan Blok J ke Blok H. Seru bukan? Untungnya saya tidak pernah mengalami terperangkap di dalam lift walaupun gosipnya ada yang pernah mengalami hal seperti itu. Singkat cerita, pengalaman lift rusak merupakan makanan tiap minggu penghuni Mares II. Bayangkan apa yang terjadi pada jam-jam sibuk berangkat ke kampus/kantor atau jam pulang 😦 Nah sekitar 6 bulan sejak saya di sana, dimulailah proyek pemasangan lift baru di Blok H dan HH. Ini proyeknya lamaa banget berbulan-bulan, sampai-sampai ada penghuni yang kesal dan memprotes manajemen dengan menulisi dinding di sekitar lift dengan kata-kata makian. Sangat memprihatinkan. Harusnya mereka datang ke kantor manajemen dan protes langsung. Ini malah memaki-maki di dinding. Setelah proyek kelar akhir 2013, tentu para penghuni H atau HH berharap bahwa sekarang mereka punya 4 lift. Kenyataannya, sampai saya pindah, hanya satu lift saja dari dua lift di Blok H yang diaktifkan (gantian operasionalnya). Untunglah kedua lift di Blok HH diaktifkan, sehingga total kami bisa menggunakan 3 lift. Aneh ya padahal lebih mahal service charge Blok H dibanding HH.

3. Fasilitas Pendukung Kolam Renang Kurang Layak

Kolam renangnya sih udah juara (seperti saya ceritakan di atas), namun fasilitas pendukungnya menyedihkan, antara lain:

  • Lampu kamar mandi untuk bilas yang sudah mati tidak pernah diganti. Akibatnya setelah berenang kita harus berbilas gelap-gelapan, atau jika merasa situasi aman, buka pintu sedikit agar cahaya masuk ke kamar mandi. Ini tidak berubah selama 1.5 tahun saya di sana.
  • Payung meja di pinggir kolam yang sudah rusak tidak diganti. Awal-awal saya tinggal di sana masih ada 2 “tenda payung” di pinggir kolam yang bisa kita gunakan untuk meletakkan tas dll sementara kita berenang. Namun di akhir-akhir saya tidak melihat lagi tenda tersebut. Jadi jika hujan mendadak turun ketika kita berenang, kita terpaksa kocar-kacir menyelamatkan tas. Dengan tidak adanya tenda payung tidak ada juga tempat bersantai yang nyaman dari sengatan matahari

4. Keamanan Kurang Terjamin

Kok bisa? Memang setiap penghuni telah diberi access card untuk masuk ke area apartemen atau pun ke area kolam renang. Idealnya hanya yang punya access card yang bisa masuk, yang tidak punya ya tidak bisa masuk. Itu teorinya. Kenyataannya? Bahkan petugas delivery makanan pun bisa mengantar sampai ke depan pintu kamar Anda. Apakah mereka punya access card juga? Saya yakin tidak. Masalah ini sebenarnya bukan kesalahan manajemen Mares ya, ini lebih karena budaya kita yang saling “tolong menolong”.

Contohnya antara lain:

  • Penghuni A sudah berada di area lift yang tertutup. Nah tiba-tiba ada seeorang (katakanlah B) yang ada di luar area lift tidak punya access card melambai-lambaikan tangan ke si A agar dibantu masuk (dibukakan pintu dari dalam). Apa yang biasanya dilakukan penghuni A? Dari yang saya amati sebagian besar penghuni masih mempraktekkan prinsip tolong menolong, sehingga si A pun (ikhlas atau tidak) berjalan ke pintu dan membukakan pintu.
  • X ingin masuk ke area lift namun tidak ada orang di sana. Dia pun menunggu sampai ada yang datang dan membawa kartu. Ketika Y datang dan menggesekkan access card-nya, pintu terbuka, si Y pun masuk. Bagaimana dengan X? Dia tentu saja mengikuti dari belakang dan ikutan masuk.

Yup, itulah yang biasa terjadi. Adalah tidak sopan jika kita cuek dan tidak membukakan pintu untuk orang lain yang tidak punya kartu. Aneh bukan? Itulah Indonesia 🙂 Jadi bicara masalah keamanan di Mares, jawaban saya adalah tidak aman. Benteng satu-satunya adalah pintu kamar! Pastikan Anda selalu mengunci pintu kamar Anda.

Mungkin ada yang berpikir, kan aman ada CCTV, jadi orang tidak bisa sembarangan di ruang publik apartemen. Di Mares II setahu saya CCTV cuma ada di depan lift lantai GF, B1 dan B2. Di lantai-lantai yang lain (1 – 20)  tidak ada.

5. Pencatatan Perparkiran Bermasalah. Cerita lebih lengkap bisa dibaca di sini.

6. Tidak Cocok untuk Keluarga, Apalagi yang Memiliki Anak Usia TK – SD

Ada beberapa alasan mengapa kurang cocok, antara lain:

  • Alasan pertama, kamar yang tersedia hanya ukuran studio (20 – 24), jadi hanya cocok untuk single atau pasangan suami istri saja.
  • Alasan kedua, tidak “guest-friendly”. Jika sudah berkeluarga biasanya ada masanya kita akan kedatangan tamu. Tentunya tidak nyaman menjamu tamu kita di kamar tidur 🙂
  • Alasan ketiga, tidak “child-friendly”. Jika sudah memiliki satu anak balita dan tinggal di apartemen juga kurang baik. Mengapa? Apartemen memiliki “budaya” yang berbeda dengan adat timur. Kesan individualis sangat kental. Kita bahkan tidak perlu kenal dengan tetangga di sebelah kita. Hal ini berdampak bahwa tidak ada kontrol sosial di sini. Beberapa kali saya melihat pasangan muda-mudi (yang saya yakin belum menikah) masuk ke kamar yang sama. Situasi seperti ini tentu saja tidak disarankan untuk dilihat oleh anak-anak di bawah umur. Beberapa kali saya juga melihat wanita merokok di public area 😦

7. Suara Speaker Masjid yang Terlalu Keras

Blok HH dan sebagian Blok H (yang menghadap Margonda) bertetangga dengan sebuah masjid. Masjid ini di pagi buta (sekitar jam 3 pagi) sudah mulai beraktifitas. Suara speaker-nya sangat keras sehingga bisa membangunkan orang-orang yang ada di Blok HH/H tersebut. Saya yang muslim saja kadang terganggu, apalagi yang non muslim. Alangkah baiknya jika speaker-nya bisa diarahkan ke tempat lain dengan volume yang secukupnya. Sebagai muslim saya juga menilai bacaan sholat dan doa dari imam masjid tersebut tidak bagus. Saya heran mengapa jamaahnya tidak memprotes atau mengganti imamnya dengan imam yang bacaannya lebih baik. Salah bacaan kan salah arti. Kesalahan yang tiap hari saya dengar adalah bacaan azan Subuhnya.

  • Seharusnya: Asshalaatu khairum minan na’uum(Shalat lebih baik dari tidur)
  • Versi sang Imam, dibaca: Asshalaatu khairum minan  num … (Shalat lebih baik dari ???)

Kata suami saya, imam tersebut sudah sepuh, mungkin lidahnya sudah tidak bisa mengucapkan lafaz Arab dengan benar.

Suara speaker itu paling mengganggu pas bulan puasa. Jadwal Imsak biasanya sekitar jam 4 – 4:30 pagi. Namun para ustadz di masjid ini sudah “membangunkan” orang-orang dari jam 2  – 3 pagi. Pas jam 4 – 4:30 mereka malah senyap. Awal-awal puasa jadi sering tidak sahur karena jam 2 sudah terbangun oleh suara keras kemudian tidur lagi untuk berencana bangun jam 4. Eh malah bablas sampai Subuh 😛

OK, saya kira itu pengalaman suka dan duka di Apartemen Mares II. Semoga berguna untuk yang berencana tinggal di sana.

Advertisements
 
7 Comments

Posted by on April 29, 2014 in seputar depok

 

Tags: , , , , ,

7 responses to “Suka Duka Tinggal di Apartemen Mares II Depok

  1. Leney

    June 22, 2014 at 11:18 am

    mbak… kalau biaya listrik dan air biasanya berapa? dan bagaimana pemakaiannya..
    mohon pencerahannya ya mbak..

     
  2. Fitri

    November 28, 2014 at 5:39 am

    Terima kasih untuk share pengalamannya, kebetulan saya sedang mikir mau sewa apartemen mares, jadi mikir2 neh karena saya pny 2 anak kecil. saya memilih mares krn saya pikir dekat dgn rmh sodara tapi klo keamanan krng saya jadi hrs berpikir berkali2.

     
  3. Engineering GICA

    December 31, 2015 at 1:22 am

    Tulisan yg menarik.. thank u..

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: