RSS

Public Transport di Kuala Lumpur

17 Nov

Kali ini saya akan bercerita tentang public transport di Kuala Lumpur, mulai dari pelayanan bandara, bus dari bandara ke pusat kota KL, stasiun kereta dan gerbong keretanya serta tidak ketinggalan tentang taksi di KL.

Bandara LCCT (Low Cost Carrier Terminal)

Semua penerbangan AirAsia dari dan ke Kuala Lumpur dilayani melalui budget terminal yang diberi nama LCCT. Walaupun LCCT ini merupakan budget terminal untuk penerbangan murah, fasilitasnya tidak sesederhana budget terminal di Singapura. Jika di budget terminal Singapura saya tidak melihat ada restoran atau toko-toko, maka di LCCT KL kita bisa menemukan restoran seperti Mc Donalds, dll. Dari pemantauan sekilas, sepertinya bandara ini lebih kurang sama levelnya dengan Terminal II Bandara Soekarno Hatta, Jakarta.

Sebuah restoran fastfood di KLCC

Salah satu sudut Terminal LCCT

Suasana di Luar LCCT KL

Berbeda dengan ruang tunggu terminal keberangkatan Bandara Soetta Jakarta atau pun Bandara Changi Singapura yang steril dari kegiatan jual beli, di LCCT ini ruang tunggunya yang super besar menyediakan berbagai toko oleh-oleh, toko parfum/rokok, money changer dan restoran. Jadi jika pesawat kita mengalami delayed, kita tidak perlu khawatir akan kelaparan. Kita juga bisa jalan-jalan window shopping melihat barang-barang sembari menunggu panggilan untuk boarding. Ya, tentu saja harga makanan dan barang-barang di sini relatif mahal.

Kebijakan menyediakan toko dan restoran di ruang tunggu ini sebenarnya agak kontradiksi juga dengan aturan bahwa kita tidak boleh membawa botol minuman ke daerah ruang tunggu. Setelah melewati imigrasi, kita akan langsung berhadapan dengan petugas yang memeriksa isi bagasi dan tas kita. Semua botol yang berisi cairan (minuman, parfum atau pun kosmetik) dengan jumlah tertentu harus dibuang. Tapi kok ya di dalam ruang tunggu bisa beli lagi, tanya kenapa?

Ruang Tunggu Terminal Keberangkatan LCCT

Oh ya, di ruang tunggu tersedia juga wifi gratis dengan kecepatan akses yang lumayan. Selain itu ada area untuk men-charge alat eletronik kita, seperti hp, kamera atau laptop. Benar-benar memanjakan pengunjung.

Jika budget terminalnya saja sudah sebagus ini, saya yakin bandara utamanya yaitu KLIA lebih bagus lagi, mungkin bisa dibandingkan dengan Bandara Changi Singapura.

Bus Bandara

Dari LCCT menuju Kuala Lumpur kita bisa menggunakan bus atau taxi. Tentu saja karena ingin berhemat, kami memilih untuk menggunakan bus ke KL Sentral yang merupakan terminal utama di KL. Jika di Jakarta cuma ada satu pilihan bus yaitu Bus DAMRI, maka dari LCCT ke KL Sentral ada 2 pilihan, yaitu:

  • Bus SKYBUS, milik AirAsia, dengan biaya RM9.
  • Bus AEROBUS, milik swasta lain, dengan biaya RM8.

Skybus AirAsia

Saya menggunakan Skybus AirAsia untuk perjalanan LCCT-KL Sentral serta menggunakan Aerobus untuk rute KL Sentral-LCCT. Dari pengalaman menggunakan kedua bus tersebut, saya menyarankan untuk memilih Skybus AirAsia saja. Walaupun lebih mahal RM1, tapi busnya jauh lebih bagus, baik AC, kursi maupun interiornya.

Tiket Skybus AirAsia

Kita bisa membeli tiket bus di dalam bandara setelah keluar dari imigrasi atau membelinya ke agen di halte bus. Kami menunggu cukup lama sampai bisa naik bus. Jumlah bus dan calon penumpang tidak seimbang sehingga terjadi penumpukan. Bahkan para penumpang harus berebutan naik karena tidak ada petugas yang mengatur antrian dan tempat duduk. Untuk aspek ini KL kalah telak dibanding Singapura yang menyediakan transportasi kereta dari bandara ke pusat kota.

Stasiun Kereta

Stasiun kereta di KL sangat bagus, sama bagusnya dengan stasiun MRT di Singapura. Kalau dibandingkan dengan Jakarta bagaimana? hehe … jauuuh … kasihan deh rakyat Indonesia :(

Untuk naik ke peron, calon penumpang harus mempunyai tiket. Beda dengan di Jakarta, dimana orang atau pedagang “bisa” bebas masuk peron walaupun tidak punya tiket.

Seperti halnya di Singapura, ada kartu magnetik (mungkin smart card) yang digunakan oleh pengguna rutin dengan men-tap-kan ke mesin di pintu masuk. Untuk pengguna yang tidak punya smart card bisa membeli kartu sekali jalan. Kartu sekali jalan ini bisa dibeli di mesin tiket atau membeli melalui petugas di counter tiket. Kelebihan kartu sekali jalan di KL dibandingkan dengan di Singapura adalah kita tidak perlu membayar uang deposit kartu, cukup bayar biaya perjalanan saja. Di Singapura untuk setiap tiket sekali jalan, kita harus membayar deposit SGD 1 (Rp.7000).

Mesin Tiket

Loket Pembelian Tiket

Setelah memegang tiket, selanjutnya kita harus melewati gerbang peron seperti pada gambar di bawah ini:

Mesin Otorisasi Menuju Peron

Untuk naik ke peron disediakan eskalator yang bagus.

Eskalator di Stasiun KL Sentral

Peron Stasiun KL Sentral

Perhatikan bahwa seperti halnya di Singapura, di peron ini ada informasi berapa lama lagi kita harus menunggu kereta. Terkesan sangat menghargai waktu penggunanya.

Kereta LRT Kelana Jaya Line

Interior dalam kereta juga gak kalah cantik dibandingkan MRT di Singapura. Jika dibandingkan dengan interior KRL Commuter Jabodetabek, masih sedikit lebih bagus LRT-nya KL.

Suasana dalam gerbong kereta LRT Kelana Jaya

Salah satu lorong di Stasiun LRT KLCC

Peron Stasiun LRT KLCC

Petunjuk Stasiun Selanjutnya

Sayangnya saya hanya sempat mencoba LRT, tidak sempat mencoba monorail, MRT ataupun kereta Kommuter-nya KL.

Taxi

Taksi di KL ada beberapa jenis, antara lain taksi eksekutif dan taksi biasa. Taksi biasa ini ada yang diberi label Teksi Bermeter, yaitu taksi yang dijamin supirnya pake argo. Aneh juga ya? Ternyata hal ini ada karena kebanyakan taksi di KL ini tidak mau pake argo dan maunya tawar menawar. Annoying sekali ya?

Akhirnya! Ada juga yang bisa kita banggakan dari Jakarta, yaitu taksi :)

Teksi Bermeter

Selama 3 hari 2 malam di KL, saya satu kali naik taksi tanpa argo dan tiga kali dengan argo dan alhamdulillah semua supir taksinya baik. Pernah juga mengalami ditolak naik oleh taksi di kawasan Bukit Bintang dengan alasan traffic jam. Ya, selain bermasalah dengan argo, ada juga taksi di sana yang suka menolak penumpang jika rutenya dianggap tidak menarik. Sangat tidak nyaman memang, apalagi di saat kita sangat membutuhkan taksi di waktu malam di kala badan sudah lelah berjalan-jalan sepanjang hari. Heran ya, kenapa kota sebagus KL tidak punya perusahaan taksi sekelas Bluebird. Apakah karena tarif taksi yang ditetapkan pemerintahnya kurang reasonable?

Tarif Taksi di Malaysia

Lain-lain

Di KL tidak ada angkot, ataupun ojeg. Kita harus kuat jalan kaki ke stasiun kereta atau ke halte bus. Lumayan tertib, seperti Singapura.

Terkait ketertiban di jalan raya, saya dan teman saya sempat hampir ditabrak oleh pengendara motor yang ngebut, padahal kami menyebrang ditempat yang seharusnya dan sebelumnya jalan itu cukup kosong. Saya juga melihat ada pengendara mobil yang di perempatan ketika lampu merah tidak berhenti sebelum zebra-cross. Pada dua kejadian tersebut kebetulan pelakunya adalah orang India. Tapi overall, masih lebih tertib dibandingkan Jakarta.

Untuk penduduk yang buta juga disediakan path untuk berjalan, jadi mereka bisa pergi kemana saja tanpa harus ditemani.

Penanda Jalan untuk Orang Buta

Kesimpulan:

  • Kuala Lumpur lebih maju layanan transportasi keretanya dibanding Jakarta.
  • Jika ingin merasakan transportasi kereta yang modern cukup main ke KL saja, tidak perlu ke Singapura yang mahal biaya akomodasinya.
  • Pilih taksi yang mau pake argo, yaitu yang diberi label Teksi Bermeter agar terhindar dari kerumitan tawar-menawar.

OK, semoga informasi ini berguna untuk Anda yang ingin melancong ke negeri jiran. Have a nice trip!

About these ads
 
7 Comments

Posted by on November 17, 2011 in jalan-jalan, Malaysia

 

Tags: , , , , , , ,

7 responses to “Public Transport di Kuala Lumpur

  1. utet

    December 29, 2011 at 9:24 pm

    emang kl yg tawar menawar brp-an mbak byrnya?

     
  2. utet

    December 29, 2011 at 9:26 pm

    daerah Bandar baru nilai, kl naek Airasia emang jauh y dr bndara?

     
  3. suardi

    January 18, 2013 at 1:23 pm

    thanks informasinya

     
  4. Asep Wijaya

    March 3, 2013 at 6:46 pm

    Saya keberatan dg informasi bhw LCCT sama levelnya dg Terminal 2 di CGK Jakarta. LCCT kumuh dan tidak teratur. Suasana yg lusuh layaknya dan sama sekali tdk pantas disandingkan Terminal 2 CGK. Saya tulis ini sambil antri cek im Air Asia. Mungkin next time mending pake Lion aja. Kalo Lion mendarat di KLIA. Satu2 kelebihan LCCT menurut saya cuma wifi gratis.

     
    • kafin

      March 26, 2013 at 1:40 pm

      Pak Asep, mungkin karena pas saya ke LCCT tahun 2011 kebetulan suasananya sedang bersih dan rapi. Jadi saya merasa lebih kurang sama levelnya dengan Terminal 2 CGK. Overall saya setuju Terminal 2 CGK masih lebih baik, kecuali jika sedang musim haji karena banyak rombongan penjemput yang tidur-tiduran di teras Terminal 2.

       
    • lidia

      March 24, 2014 at 9:36 am

      kumuh gimana mksdnya??? sy yg sllu bolak-balik jkrta-kL nggak merasakan hal spt itu. LCCT selalu nampak bersih,teratur,mewah dan mempunyai keutamaan layanan yg trbaik buat pengunjung. paling nggak di lcct itu kgk ada yg berpleseran sampai tidur2an :D

       
  5. Ryan M.

    June 30, 2013 at 3:03 pm

    Hahaha, coba kalo pengemudi taksi di KL merasakan bagaimana macetnya Jakarta :) Selama liburan saya di KL, saya bisa bilang bahwa taksi di sana “not recommended”, selalu nggak pake argo meski sudah ada tulisannya “Teksi Bermeter”…

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: